Senin, 28 September 2015
Idul Adha 2015
Idul Adha? kapan? besok? kok aku masih disini? dimana? ya disini? masih di alam dunia kan? bersyukurlah kamu.
apa sih itu. aneh bacanya. hahaha
besok idul adha, hari raya agung, hari berqurban. H-1 aku masih menjalani rutinitas di kampus. meski untungnya diliburkan untuk jadwal praktikum.
tenang, untuk kali ini rasanya aku mulai terbiasa melewati hari raya jauh dari orang tua. aku mulai terbiasa? atau terpaksa terbiasa? entah.
idul adha yah? jadi ingat beberapa tahun lalu, ketika masih aktif di organisasi intra di SMA. dulu, sehari sebelum idul adha aku masih disekolah membereskan surat-surat untuk kegiatan LDKS. sampai magrib menjelang, aku masih diruang OSIS bersama dua rekan laki-lakiku. dia lah sang ketua dan wakilnya.
surat yang bertumpuk, belum di cap dan belum dilipat itu seolah menahanku agar tetap di ruangan itu. hingga setelah adzan berkumandang, bapak datang menjemput. tentu saja aku harus pulang, masa bodo dengan tumpukkan kertas itu. aku seperti lupa akan tanggung jawabku ketika melihat wajah bapak dan adikku menjemput.
bergegas pulang, meningggalkan dua rekanku. segera naik motor tua bapak dan mampir sebentar dikosan untuk mengambil baju. baju kotor yang akan dicuci di rumah. hehehe..
kosan ternyata sudah sepi. tak tersisa satu orang pun, yaa kecuali ibu kostnya. motor tua mulai melaju, menembus angin malam di tengah kumandang takbir yang menggema. bersama bapak, akan selalu indah. bersama bapak, kemanapun aku senang.
tak terasa, keadaan sekarang amat berbeda. jarakku terlalu jau untuk bapak jemput dengan motor tuanya, seperti waktu itu.
mudah-mudahan bapak diberikan kesehatan selalu disana. aamiin..
Rabu, 12 Agustus 2015
Oh, Rangga?
Siang ini
begitu terik, nampaknya matahari sedang membalaskan dendamnya hari ini karena
kemarin ia tak diberi kesempatan untuk memamerkan sinarnya. Tertutup awan pekat
seharian penuh. Hari ini pun hari keberuntungan untuk kelasku, pasalnya Dosen tauhid
tak berminat masuk, entah kemana tanpa kabar. Membiarkan kami menunggu 30 menit
lamanya lalu kemudian memutuskan membubarkan diri membiarkan kelas tak
berpenghuni. Berhamburan dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang langsung
ke kantin, ada juga yang merencanakan mengerjakan tugas untuk sabtu besok, dan
beberapa lagi ada yang pergi ke gedung student center untuk mengikuti
audisi biology voice yang memang pendaftarannya dimulai hari ini. Aku
pun seharusnya ikut kesana. Mengikuti audisi itu. Sedikit aneh memang orang
sepertiku mengikuti grup yang menjadikan suara sebagai modal utama. Tentu saja bukan
karena aku merasa suaraku merdu atau bagaimana, hanya saja aku ingin bisa
bernyanyi. Untuk apa? Itu rahasia, ada misi yang aku rencanakan untuk nanti
dimasa depan.
Tapi kali ini
aku tak bisa mengikutinya, ada hal yang lebih penting. Aku harus ke kantor pos.
Menuruni
tangga dengan canda tawa yang terdengar dari mereka yang berlalu lalang. ada
yang naik dan ada yang turun sepertiku.
Sampai
dilantai satu, tepat dibawah tangga kulihat ada meja kecil dengan hiasan kertas
karton dan origami yang berwarna warni. Tampak ramai dengan orang-orang yang
mengerumuninya. Aku penasaran, karena seingatku tadi pagi tak ada kerumunan
macam ini. Kusempatkan melihat dan menghampiri kerumunan itu. Baru selangkah
mendekat, terdengar teriakan-teriakan dari mereka yang memintaku untuk mendekat
dan membaca selebaran penuh warna.
“Sini teh, ayo
gabung sama kita. Banyak lho teh jenis perlombaannya” kata salah satu perempuan
yang antusias menyuruhku mendekat sambil menunjuk-nunjukkan selebaran.
Aku sedikit
bingung, belum sempat aku membaca selebaran yang ia berikan, lagi-lagi
perempuan tadi dengan semangat menjelaskan semuanya. Aku mengangguk-anggukkan
mencoba mencerna apa yang dikatakannya. Dan akhirnya aku tahu ternyata ini
adalah stand pendaftaran berbagai perlombaan yang diadakan Himatika. Himatika
adalah semacam organisasi atau himpunan mahasiswa jurusan matematika. Kalau
dijurusanku Himbiosai namanya, akromnim dari Himpunan Mahasiswa Biologi
Saintek.
Kembali ke
selebaran yang ku baca, di dalamnya tertulis berbagai lomba seperti lomba tulis
cerpen, puisi, fotografi, edit video, dan kaligrafi. Sebenarnya aku sempat
melihat pengumuman ini sebelumnya di mading depan kelas, tapi tak begitu ku
perhatikan. Hanya membaca selintas, dan berlalu tak membekas.
Aku bertanya mengenai salah saatu
lomaba, lomba tulis cerpen. Karena dari dulu aku tak cukup berani
mengikutsertakan cerita-cerita yang pernah kutulis. Ku tanyakan bagaimana
persyaratan dan ketentuannya. Kemudian memberiku selembar kertas dan aku dapat
membaca semua informasi yang ku tanyakan tadi.
Kupastikan kali ini aku harus
ikut, entah itu dengan karya yang jelek atau bagus apalagi masalah menang atau
kalah, ah itu sama sekali tak aku pikirkan. Aku berani menulis saja, sudah
merupakan kebanggaan tersendiri.
Ku tuliskan
namaku di lembar daftar para peserta, cukup banyak ternyata yang berminat.
Meskipun yang paling banyak pendaftarnya adalah lomba tulis puisi. Dan hei, Ada
yang menarik. Tepat satu baris diatasku tertulis pendaftar dengan nama Rangga,
dia mengikuti dua lomba sekaligus, tulis cerpen dan puisi. Tapi bukan perkara
itu yang membuatku tertarik. Namanya
yang membuatku tersenyum tipis saat membacanya. Rangga. Nama itu mengingatkanku
pada tokoh utama dalam film Ada Apa Dengan Cinta atau yang lebih dikenal dengan
AADC yang diperankan oleh Nicholas Saputra. Seorang pujangga yang dingin dengan
pengetahuan sastra yang luar biasa. Dan dialah yang memenangkan lomba puisi disekolahnya
dan mengalahkan Cinta si anak mading yang terkenal pandai menciptakan
puisi-puisi indah yang berhasil diperankan dengan baik oleh Dian Sastro
Wardoyo. Wah sepertinya aku hapal sekali alur cerita dari Film tahun 2000-an
itu ya?. Jelas!, selain karena aku memang suka filmnya, baru kemarin sore aku
memutar kembali film lama itu di laptop. Jadi wajar saja alur dan perwatakan
dari tokoh yang diperankan masih lekat di ingatanku. Film itulah yang secara
perlahan membuatku menyukai sastra dan menulis. Nah, yang menjadi buah
pikiranku adalah, akankah Rangga yang namanya tertulis diatas namaku itu
memiliki kemampuan yang sama dengan tokoh Rangga dalam AADC? Lantas dia jugakah
yang akan memenangkan perlombaan ini? Entahlah. Aku jadi penasaran dengan pertanyaanku
sendiri. Akan ku tunggu karyanya, puisi dan cerita pendeknya untuk menjawab
semua tanya di benakku.
Dan oh, baru
kusadar, aku harus segera pergi sebelum
kantor pos di wilyah Ujung Berung sana tutup. Setelah membereskan pendaftaran
berikut biaya administrasinya, aku minta izin untuk meninggalkan tempat itu.
Aku kembali mengganggukkan kepala, namun kali ini pertanda aku pamit dan
terdengar beberapa orang diantara mengucapkan terimakasih dengan iringan senyum
yang merekah. Aku bergegas pergi dan mengingatkan diri agar tak lupa dengan
misiku untuk menunggu karya seorang Rangga yang berada dalam dunia nyata.
Minggu, 09 Agustus 2015
Bayangan Hitam di Dinding Putih
19 Juni 2015
02 Ramadhan 1436 H
Pandanganku
mengikuti banyanganmu, iya hanya bayangan hitammu yang tercetak di dinding
putih itu. Tak pernah aku lepas pandanganku dari bayangan hitam itu. Tak pernah
lepas, hingga akhirnya aku mendengar suaramu. Suaramu yang kemudian
menghanyutkan aku dan beberapa pasang mata yang lain. Menyejukkan, membawa ku
dan beberapa pasang mata berada dalam kekhusukan. Ku puji suaramu dalam hati,
ku kagumi apa yang kamu lakukan malam ini. Aku tersenyum ketika kamu telah
selesai mengucapkan salam. Lantas kemudian kembali berdiri untuk memulai rakaat
yang baru. Aku tak dapat melihat wajahmu. Jangankan wajah, punggungmu pun
tidak. Hijab itu terlalu tinggi, tak memungkin kan aku melihat kamu sang
pemilik bayangan hitam di dinding putih. Hanya suaramu lah yang membelaiku.
Membelai hatiku dengan lantunan kalam illahi yang kau ucapkan, menerbangkanku
dengan sayap-sayap lembut suaramu.
Sungguh, Ramadhan dimalam ketiga ini
aku beruntung dapat melakukan kewajiban seorang hamba bersamamu, dengan waktu
dan tempat yang sama meski kamu tak benar-benar tertangkap oleh lensa mataku.
Kamu sosok baru yang aku kagumi dalam diam. Meski hanya menatap bayangan, dan
tak bertatap dengan sang pemilik suara lembut pelantun kalam illahi, itu bukan
masalah bagiku. Bukan alasan untuk tidak mengagumimu meski hanya dalam diam.
Biar Allah yang tahu bagaimana ucap pujianku terhadapmu, bagaimana bahagianya
aku menatap bayangmu, dan biarkan hanya Allah yang tahu apa yang kurasa ketika mata
ini terpejam saat kamu melantunkan kalamNya.
Terimakasih untuk keindahan dan
kebahagiaan malam ini. Semoga di malam esok aku masih melihat bayanganmu di
dinding putih yang sama dan mendengar lantunan kalam Allah dengan suara lembut
yang sama. Ku nanti esok malam. J
#gadisbermukenaputih
J
-bersambung-
Bayangan Hitam di Dinding Putih 2
22 Juni 2015
05 Ramadhan 1436 H
Lagi. Aku
menikmati alunan indah suaramu. Terdiam. Beberapa kali mata terpejam untuk kemudian
benar-benar tenggelam dalam kalam Allah yang kamu lantunkan. Malam ini aku tak
hanya melihat bayang hitam mu di tembok putih itu. Kali ini aku melihat ragamu,
meski tak bertatap, meski hanya selintas. Koko hitam yang kamu kenakan lengkap
dengan peci diatas kepala sempurna membuatmu terlihat begitu berbeda dari yang
lain.
Entah apa yang
terjadi padaku, entah angin mana yang mengubah arah hatiku. Kenapa aku begitu
mengagumimu, padahal sebelumnya sama sekali tidak. Tak terpikir akan mengenalmu
bahkan sampai menaruh kagum berlebih terhadapmu.
Aku sadar, ada
yang salah dengan semua ini. Aku yang berusaha melongokkan kepala ke balik
hijab hanya untuk memastikan yang kudengar adalah memang suaramu. Meski
akhirnya sia-sia. Belum sempat aku menengok, rasa malu telah datang menghampiri
lebih dulu. Aku yang selalu merapikan posisi mukena yang tak berantakan sebenarnya.
Mewanti wanti kamu kembali melintas di pintu itu. Padahal, kalaupun benar kamu
melintas, sebenarnya kamu tak akan sedikitpun menatap kearahku. Bahkan mungkin
kamu tak pernah menyadari kehadiranku.
-bersambung-
Kapan Kita Putus?
Kapan Kita Putus?
30 Juli 2015
Tujuh tahun lalu
aku mulai mengenalmu. Menyimpan sejuta kagum terhadapmu. Kamu membuat liburanku
kala itu terasa semakin lengkap.
Dulu aku memang
sering di ajak sepupuku berlibur ke rumah ayahnya. Karena semenjak ayah dan ibunya
bercerai, ia terpisah jarak yang cukup jauh dari ayahnya. Karena itulah ketika
musim liburan tiba, ia selalu ingin menghabiskannya bersama ayah dan
keluarganya, di daerah pesisir sana. Aku pun sering di ajaknya. Katanya aku
bisa menemaninya di perjalanan. Aku memang sepupu yang baik. Meski aku masih
duduk di bangku SMP saat itu, tapi Ayu ~nama sepupuku~ sering mengatakan aku
adalah teman curhat yang baik. Tentu saja. Bagaimana tidak, aku lebih banyak
diam dan menjadi pendengar yang baik ketika ia bercerita. Tak banyak
berkomentar. Mungkin seperti itulah yang ia anggap baik.
Saat itu aku
memang hanya sekedar kenal. Meski sebenarnya secara tak sadar ada perhatian
lebih yang ku taruh padamu. Ada pandangan dengan intensitas lebih terhadap
sosokmu. Dan aku tahu kamu pun demikian. Kamu sering sekali terlihat gugup
ketika di depanku. Masih ingat dulu, karena begitu gugupnya kamu menjatuhkan
benda disamping mu. Lalu kemudian tersenyum malu kepadaku.
Saat itu tak
banyak yang aku tahu tentang mu. Dan ku rasa begitu pun sebaliknya. Karena pada
sasat itu, memang sahabatmu lah yang lebih akrab ~sok akrab tepatnya~ denganku.
Di malam terakhir
liburanku, aku mendengar kamu bernyanyi. Tak begitu jelas lirik dan nadanya.
Satu kalimat yang berhasil aku ingat ‘Hari ini ku dendangkan’. Ya, hanya satu
kalimat itu yang benar-benar jelas terdengar. Tahukah kamu? Satu kalimat itu ku
ingat-ingat selalu. Ku tanyakan pada teman-teman yang ahli di bidang musik. Dan
akhirnya aku tahu, itu adalah lirik lagu dari grup band J-roks dengan judul
Ceria. Sejak itu sering sekali aku menyanyikan lagu itu dan mengaku menjadi
J-roks star meskipun hanya sesaat.
Di tahun
berikutnya, Ayu mengajakku berlibur bersama lagi. Tentu saja aku mau. Selama
setahun itu aku memang menanti-nanti liburan semester. Tepatnya menanti untuk
bertemu denganmu.
Di tahun kedua
itu, akhirnya aku kembali bertemu dengan kamu. Kali ini tak hanya sekedar kenal
namamu, Very Dian Koswara. Lebih dari itu. Akhirnya kamu mengatakan kamu
menyimpan rasa yang berbeda terhadapku.
“Gisha, bagaimana
jawabanmu?” tanyamu setelah kamu mengungkapkan perasaan itu.
Aku diam cukup
lama. Bingung. Meski di sudut hati yang lain ada rasa senang menyelinap. Aku
ragu, mungkinkah kamu yang sudah duduk di kelas XI benar-benar menyukaiku yang
kala itu masih duduk di kelas VIII. Apalagi aku tahu, kamu seorang aktivis dan
juga seorang vokalis band sekolah mu. Laki-laki macam kamu, apakah mungkin
tidak memiliki tambatan hati di sekolah.
“Gisha belum bisa
jawab sekarang Kak” kataku polos.
“Ok, nanti malam
aku tunggu jawabanmu” kamu berdiri hendak meninggalkanku.
“Enggak Kak.
Besok aku kasih jawabannya” aku mengulur
waktu.
“Baiklah, besok
ku tunggu.” Kemudian kamu berlalu begitu saja. Meninggalkanku dalam diam.
Keesokan harinya, kamu menagih
janjiku. Kembali melayangkan pertanyaan yang kamu tanyakan kemarin. Lagi-lagi
aku diam, kali ini aku bingung bagaimana cara mengatakan apa yang ingin ku
sampaikan. Kemudian aku hanya mengangguk pelan. Kamu bertanya sekali lagi
memastikan, dan aku mengangguk lebih yakin. Kamu tersenyum, tak dapat ku baca
itukah senyum bahagia kamu atau ada maksud
lain di balik senyummu itu. Kamu mengepalkan tanganmu, menyisakan jari
kelingking yang tak ikut merunduk dengan jari yang lain.
“Apa ini?” tanyaku bingung melihat tanganmu
di depan wajahku.
“Mana kelingkingmu?” tanyamu lagi.
“Untuk apa?”
tanyaku masih tak mengerti.
“Ini tanda bahwa
aku dan kamu ada dalam satu ikatan” katamu dengan senyum yang membuatku semakin
membisu.
Aku hanya tersenyum. Kemudian
mengikuti apa yang kamu katakan. Jari kecil kita terpaut, menandakan bahwa kita
berada dalam satu ikatan seperti katamu. Tak terkira bahagianya aku saat itu.
Rasa bangga karena memilikimu.
Ayu, sepupu ku
pun sangat senang ketika aku ceritakan tentang hubunganku denganmu. Lalu dia
menceritakan banyak hal yang dia tahu tentang kamu. Menceritakan semua
kebaikan-kebaikan kamu. Membuat senyumku semakin melebar mendengarnya.
Hingga malam perpisahan itu tiba. Aku
berharap akan bertemu denganmu sebelum aku pulang. Tapi ternyata tidak. Kamu
tidak menemuiku. Hingga ku dengar dari kawanmu, kamu sakit hingga tak bisa
menemuiku malam itu. Aku tak tahu kabar itu benar atau tidak, entah kenapa aku
merasa ragu. Pasalnya kemarin sore kamu baik-baik saja. Bercanda gurau dengan
teman-temanmu dan aku hanya menatapmu dari rumah disebrang jalan, sore itu.
Pagi menjelang, kamu tak kunjung
datang. Padahal kamu pun tahu akan lama sekali aku kembali ke tempat itu. Akan
butuh waktu lama untuk kita bertemu kembali. Kecewa sudah tentu. Tapi saat itu aku
mencoba untuk tetap berpikir positif, bahwa kamu sedang sakit. Akhirnya aku
pulang dengan harapan yang kosong.
Satu hari, dua hari, ku tunggu
kabarmu. Hingga satu minggu setelah kepulanganku, baru aku tahu nomor mu sudah
tidak aktif. Sebulan, dua bulan masih ku tunggu. Ku coba tanya pada Ayu perihal
itu. Kemudian Ayu memberi kabar bahwa kamu sedang dalam kondisi sulit. Mungkin
saja handphone mu juga terjual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Baiklah, aku
mengerti kondisi itu. Mengerti juga dengan kemungkinan yang disampaikan Ayu.
Aku kembali menunggu, hingga satu bulan kemudian aku kembali bertanya pada Ayu.
Setelah Ayu
menghubungi kawan mu, Ayu memberi kabar kepadaku,. Kabar yang membuatku
menyesal telah menunggumu.
“Gis, Very bilang kamu masih anak
SMP. Nanti kalau kamu sudah SMA, baru dia akan serius sama kamu.” Itu perkataan
Ayu saat itu.
Aku
tak tahu harus berkata apa. Kecewa, atau bahagia karena terbebas dari
ketidakpastian beberapa bulan lalu. Entah apa maksudmu melakukan semua itu terhadapku. Aku tak pernah tahu.
Pertemuan tahun
itu adalah benar-benar pertemuan terakhirku denganmu. Aku tak bisa lagi
menemuimu. Karena sejak saat itu
keluargaku berselisih dengan keluarga Ayu. Membuat kami pun serasa ikut
berselisih. Dan Ayu tak pernah lagi mengajakku berlibur bersamanya.
Beberapa tahun berlalu begitu saja.
Tanpa pernah ada sedikit pun kabar darimu. Bahkan sampai hari ini. Sampai aku
berada di tingkat dua di salah satu universitas di Jakarta. Ingin aku
mengatakannya padamu. Menagih janjimu jika aku berada di jenjang SMA, yang saat
ini bahkan telah aku lewati jenjang itu.
Sebenarnya aku
selalu menunggumu. Tak pernah ku ganti nomor telepon yang dulu pernah aku
berikan padamu, berharap kamu akan menghubungi. Namun tetap tak ada. Enam tahun yang penuh dengan harapan semu. Harapan bahwa kita akan bertemu,
agar aku segera mengetahui jawaban dari dari pertanyaanku sendiri, ‘Kapan kita
putus?’.
Harapan Nenek untukmu Paman
Harapan Nenek untukmu Paman
28 Juli 2015
Wajahnya kian
menua. Usia dan beban hidup seolah membuatnya tak memikirkan hal itu. Bukan,
kali ini aku bukan menceritakan Ibu. Ibu masih terlalu cantik untuk aku katakan
tua. Wanita yang ku maksud kali ini adalah Nenek.
Nenek yang sendiri, tanpa kakek.
Kakek meninggal tepat ketika usia ku tujuh bulan dalam kandungan. Ketika cucu
pertamanya akan segera menemuinya.
Nenek pernah
bercerita, dulu kakek begitu menginginkan seorang cucu. karena anak-anak tertua
meninggal sebelum menikah, maka Ibu lah yang menjadi korbannya. Ibu harus
menikah di usia muda. Padahal saat itu ibu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang
SMP. Anak Nenek dan Kakek sebenarnya ada Sembilan. Tapi Allah hanya memberikan
kesempatan tiga orang untuk mendampingi Nenek dan Kakek hingga usia lanjut. Ya,
Allah memanggil enam orang saudara Ibu.
Melihat kondisi
Nenek sekarang, rasanya aku tak tega. Merasa malu dengan kelakuanku yang jauh
dari teladan Nenek. Bagaimana tidak? Tubuh Nenek yang kecil, tak pernah diam
dirumah. Kebun dan sawah tak pernah lupa ia kunjungi. Tiga hari dalam seminggu,
nenek selalu mengikuti pengajian yang jaraknya lumayan jauh. Bahkan ada satu
tempat yang sampai harus menyebrang desa. Malam harinya, Nenek mengajar ngaji
anak-anak kecil. Bermakna sekali rasanya hidup Nenek. Berbeda dengan cucu
pertama mu ini Nek, sama sekali tidak produktif bahkan diusia mudanya.
Saat ini Nenek
tengah menangis. Dan aku tahu, hampir enam bulan ini tak pernah nenek lewati
tanpa air mata. Di atas sajadah cokelat
itulah engkau menumpahkan air matamu, mengadukan segala beban hidupmu,
mengirim beribu harap dan berjuta doa untuk anak-anak mu. Terutama untuk Paman.
Akhir-akhir ini
paman memang berulah. Aku tak tahu persis bagaimana permasalahannya. Yang aku
tahu paman saat ini tenggah di lilit hutang. Bibi dan Ayah memberitahuku bahwa
hutang nya mencapai 150 juta. Aku tercengang mendengar nominal itu. Uang
sebanyak itu bisa membiayai kuliahku hingga lulus, batinku.
Bibi bilang,
selama enam bulan ini banyak sekali orang-orang yang datang kerumah Nenek,
menagih hutang paman. Coba bayangkan bagaimana perasaan Nenek? Tak tahu
apa-apa, tiba-tiba orang-orang datang dan memaksa Nenek untuk melunasi hutang
anak sulungnya itu.
Aku bukan ingin
menjelek-jelekkan paman. Bukan pula tak kasihan dengan permasalahannya. Hanya
tak habis pikir. Bukankah selama ini sebagian harta Nenek, sudah dihabiskan
paman. Sawah dan kebun sudah Nenek jual untuk untuk menutupi hutang Paman yang
telah lalu. Lalu kenapa bisa Paman saat
ini memiliki hutang sedahsyat itu? Itu sama saja membunuh Nenek secara
perlahan. Tak kasihan kah paman pada Nenek? Ibu Paman sendiri?. Bagiku
perbuatan Paman itu lebih dari tega, lebih dari keterlaluan. Nenek yang ringkih
seperti itu, Paman timpah dengan beban yang Paman sendiri tak sanggup
memikulnya.
Pantas saja
ketika hari raya kemarin, aku merasa ada yang aneh di rumah Nenek. Aku melihat
sepasang kaki terlentang di kamar gudang itu. Akhirnya aku tahu, itu adalah
kaki Paman. Paman yang sedang bersembunyi dari kejaran mereka-mereka yang
menagih hutang kepada Paman. Nenek memang selalu membela Paman. Selalu berharap
Paman akan berubah. Paman bisa usaha dengan baik, dan menghidupi keluarga Paman
dengan layak.
Idul fitri
kemarin, keluarga Paman datang berkunjung. Istri dan anak-anak Paman datang
silaturahmi ke rumah Nenek. Tak sengaja aku dengar, istri Paman mengatakan
bahwa Paman tidak pulang selama lima bulan. Dan Riki, sepupu laki-laki ku yang
tak lain adalah anak pertama Paman, sekarang sudah lulus SMP. Ku coba tanya dia
mau melanjutkan sekolah kemana. Tapi dia mengatakan bahwa dia tidak ingin
melanjutkan sekolahnya Akan ikut bekerja dengan saudara Ibunya di Jakarta. Namun
tadi pagi aku baru tahu, Bibi menceritakan kalau dia sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Air mata
ku tertahan. Bisa dia mengatakan kepadaku tak ingin sekolah, padahal hatinya
berteriak mengatakan sebaliknya. Aku tahu maksudnya, dia tak ingin menyusahkan orang tuanya dan tak ingin
dikasihani oleh siapapun.
Andai aku bisa
bertanya kepada paman. Apa Paman tidak memikirkan mereka? Anak-anak paman kah yang
harus menanggung bebannya?. Belum lagi anak perempuan Paman yang masih berusia
enam tahun, tentu ia akan menanyakan keberadaan Ayahnya yang tak kunjung pulang
ke rumah. Menyisakan bingung Ibunya yang tak tahu hendak menjawab apa.
Tahukah Paman,
permasalahan Paman ini tak hanya berimbas pada keluarga Paman dan Nenek.
Keluarga ku pun terkena imbasnya. Ibu dan Bapak tak jarang bertengkar karena
permasalahan ini. Ibu yang selalu meminta Bapak membantu permasalahan Paman.
Ikut menutup hutang Paman yang seabreg itu. Ya, Bapak sering keberatan. Karena
menurut Bapak, bukan hanya sekarang Paman terlilit hutang. Berulang-ulang kali
Bapak membatu melunasi hutang Paman, meski Bapak sendiri harus mendapatkan uang
itu dengan meminjam. Bapak mungkin bosan dengan sikap Paman yang tak kunjung
berubah. Malah semakin menjadi hingga akhirnya saat ini mencapai angka yang fantastis.
Entah apalagi
yang akan Nenek jual untuk menutupi hutang Paman kali ini. Hanya ada kebun dan
sawah berpetak kecil yang tersisa, dan tentu saja rumah tuanya. Rumahnya yang
sudah lapuk dimakan usia itu tak mungkin Nenek jual, karena disanalah Nenek
memulai hidup dengan Kakek dulu. Rumah itulah yang menjadi saksi bahwa Nenek
membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang, dengan didikan yang baik. Dan
rumah itu pula yang menjadi saksi kedurhakaan anak pada Ibu yang telah
membesarkannya. Macam paman. Bibi sudah
menyerah. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Bapak rasanya sudah malas
mendengar nama Paman. Hanya Nenek yang tetap bersikukuh dan terus berjuang membela
Paman. Menahan agar orang-orang yang saat ini
berkumpul di rumahnya tak menyakiti dan melaporkan Paman ke pihak
berwajib. Karena harapan nenek hanya satu, Paman akan berubah setelah kejadian
ini.
Aku hanya
berharap Nenek di berikan kesabaran yang lebih lebih dan lebih untuk menghadapi
cobaan yang luar biasa di masa tuanya ini. Di berikan kesehatan lahir dan
batinnya. Dan semoga aku sebagai cucu pertama Nenek diberikan kesempatan untuk
membahagiakan Nenek. Tunggu aku Nek. Doakan cucu mu agar menjadi orang sukses
yang kelak akan menutup semua luka di hati Nenek karena kelakuan Paman saat
ini. Aamiin J
Langganan:
Postingan (Atom)

