19 Juni 2015
02 Ramadhan 1436 H
Pandanganku
mengikuti banyanganmu, iya hanya bayangan hitammu yang tercetak di dinding
putih itu. Tak pernah aku lepas pandanganku dari bayangan hitam itu. Tak pernah
lepas, hingga akhirnya aku mendengar suaramu. Suaramu yang kemudian
menghanyutkan aku dan beberapa pasang mata yang lain. Menyejukkan, membawa ku
dan beberapa pasang mata berada dalam kekhusukan. Ku puji suaramu dalam hati,
ku kagumi apa yang kamu lakukan malam ini. Aku tersenyum ketika kamu telah
selesai mengucapkan salam. Lantas kemudian kembali berdiri untuk memulai rakaat
yang baru. Aku tak dapat melihat wajahmu. Jangankan wajah, punggungmu pun
tidak. Hijab itu terlalu tinggi, tak memungkin kan aku melihat kamu sang
pemilik bayangan hitam di dinding putih. Hanya suaramu lah yang membelaiku.
Membelai hatiku dengan lantunan kalam illahi yang kau ucapkan, menerbangkanku
dengan sayap-sayap lembut suaramu.
Sungguh, Ramadhan dimalam ketiga ini
aku beruntung dapat melakukan kewajiban seorang hamba bersamamu, dengan waktu
dan tempat yang sama meski kamu tak benar-benar tertangkap oleh lensa mataku.
Kamu sosok baru yang aku kagumi dalam diam. Meski hanya menatap bayangan, dan
tak bertatap dengan sang pemilik suara lembut pelantun kalam illahi, itu bukan
masalah bagiku. Bukan alasan untuk tidak mengagumimu meski hanya dalam diam.
Biar Allah yang tahu bagaimana ucap pujianku terhadapmu, bagaimana bahagianya
aku menatap bayangmu, dan biarkan hanya Allah yang tahu apa yang kurasa ketika mata
ini terpejam saat kamu melantunkan kalamNya.
Terimakasih untuk keindahan dan
kebahagiaan malam ini. Semoga di malam esok aku masih melihat bayanganmu di
dinding putih yang sama dan mendengar lantunan kalam Allah dengan suara lembut
yang sama. Ku nanti esok malam. J
#gadisbermukenaputih
J
-bersambung-