Harapan Nenek untukmu Paman
28 Juli 2015
Wajahnya kian
menua. Usia dan beban hidup seolah membuatnya tak memikirkan hal itu. Bukan,
kali ini aku bukan menceritakan Ibu. Ibu masih terlalu cantik untuk aku katakan
tua. Wanita yang ku maksud kali ini adalah Nenek.
Nenek yang sendiri, tanpa kakek.
Kakek meninggal tepat ketika usia ku tujuh bulan dalam kandungan. Ketika cucu
pertamanya akan segera menemuinya.
Nenek pernah
bercerita, dulu kakek begitu menginginkan seorang cucu. karena anak-anak tertua
meninggal sebelum menikah, maka Ibu lah yang menjadi korbannya. Ibu harus
menikah di usia muda. Padahal saat itu ibu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang
SMP. Anak Nenek dan Kakek sebenarnya ada Sembilan. Tapi Allah hanya memberikan
kesempatan tiga orang untuk mendampingi Nenek dan Kakek hingga usia lanjut. Ya,
Allah memanggil enam orang saudara Ibu.
Melihat kondisi
Nenek sekarang, rasanya aku tak tega. Merasa malu dengan kelakuanku yang jauh
dari teladan Nenek. Bagaimana tidak? Tubuh Nenek yang kecil, tak pernah diam
dirumah. Kebun dan sawah tak pernah lupa ia kunjungi. Tiga hari dalam seminggu,
nenek selalu mengikuti pengajian yang jaraknya lumayan jauh. Bahkan ada satu
tempat yang sampai harus menyebrang desa. Malam harinya, Nenek mengajar ngaji
anak-anak kecil. Bermakna sekali rasanya hidup Nenek. Berbeda dengan cucu
pertama mu ini Nek, sama sekali tidak produktif bahkan diusia mudanya.
Saat ini Nenek
tengah menangis. Dan aku tahu, hampir enam bulan ini tak pernah nenek lewati
tanpa air mata. Di atas sajadah cokelat
itulah engkau menumpahkan air matamu, mengadukan segala beban hidupmu,
mengirim beribu harap dan berjuta doa untuk anak-anak mu. Terutama untuk Paman.
Akhir-akhir ini
paman memang berulah. Aku tak tahu persis bagaimana permasalahannya. Yang aku
tahu paman saat ini tenggah di lilit hutang. Bibi dan Ayah memberitahuku bahwa
hutang nya mencapai 150 juta. Aku tercengang mendengar nominal itu. Uang
sebanyak itu bisa membiayai kuliahku hingga lulus, batinku.
Bibi bilang,
selama enam bulan ini banyak sekali orang-orang yang datang kerumah Nenek,
menagih hutang paman. Coba bayangkan bagaimana perasaan Nenek? Tak tahu
apa-apa, tiba-tiba orang-orang datang dan memaksa Nenek untuk melunasi hutang
anak sulungnya itu.
Aku bukan ingin
menjelek-jelekkan paman. Bukan pula tak kasihan dengan permasalahannya. Hanya
tak habis pikir. Bukankah selama ini sebagian harta Nenek, sudah dihabiskan
paman. Sawah dan kebun sudah Nenek jual untuk untuk menutupi hutang Paman yang
telah lalu. Lalu kenapa bisa Paman saat
ini memiliki hutang sedahsyat itu? Itu sama saja membunuh Nenek secara
perlahan. Tak kasihan kah paman pada Nenek? Ibu Paman sendiri?. Bagiku
perbuatan Paman itu lebih dari tega, lebih dari keterlaluan. Nenek yang ringkih
seperti itu, Paman timpah dengan beban yang Paman sendiri tak sanggup
memikulnya.
Pantas saja
ketika hari raya kemarin, aku merasa ada yang aneh di rumah Nenek. Aku melihat
sepasang kaki terlentang di kamar gudang itu. Akhirnya aku tahu, itu adalah
kaki Paman. Paman yang sedang bersembunyi dari kejaran mereka-mereka yang
menagih hutang kepada Paman. Nenek memang selalu membela Paman. Selalu berharap
Paman akan berubah. Paman bisa usaha dengan baik, dan menghidupi keluarga Paman
dengan layak.
Idul fitri
kemarin, keluarga Paman datang berkunjung. Istri dan anak-anak Paman datang
silaturahmi ke rumah Nenek. Tak sengaja aku dengar, istri Paman mengatakan
bahwa Paman tidak pulang selama lima bulan. Dan Riki, sepupu laki-laki ku yang
tak lain adalah anak pertama Paman, sekarang sudah lulus SMP. Ku coba tanya dia
mau melanjutkan sekolah kemana. Tapi dia mengatakan bahwa dia tidak ingin
melanjutkan sekolahnya Akan ikut bekerja dengan saudara Ibunya di Jakarta. Namun
tadi pagi aku baru tahu, Bibi menceritakan kalau dia sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Air mata
ku tertahan. Bisa dia mengatakan kepadaku tak ingin sekolah, padahal hatinya
berteriak mengatakan sebaliknya. Aku tahu maksudnya, dia tak ingin menyusahkan orang tuanya dan tak ingin
dikasihani oleh siapapun.
Andai aku bisa
bertanya kepada paman. Apa Paman tidak memikirkan mereka? Anak-anak paman kah yang
harus menanggung bebannya?. Belum lagi anak perempuan Paman yang masih berusia
enam tahun, tentu ia akan menanyakan keberadaan Ayahnya yang tak kunjung pulang
ke rumah. Menyisakan bingung Ibunya yang tak tahu hendak menjawab apa.
Tahukah Paman,
permasalahan Paman ini tak hanya berimbas pada keluarga Paman dan Nenek.
Keluarga ku pun terkena imbasnya. Ibu dan Bapak tak jarang bertengkar karena
permasalahan ini. Ibu yang selalu meminta Bapak membantu permasalahan Paman.
Ikut menutup hutang Paman yang seabreg itu. Ya, Bapak sering keberatan. Karena
menurut Bapak, bukan hanya sekarang Paman terlilit hutang. Berulang-ulang kali
Bapak membatu melunasi hutang Paman, meski Bapak sendiri harus mendapatkan uang
itu dengan meminjam. Bapak mungkin bosan dengan sikap Paman yang tak kunjung
berubah. Malah semakin menjadi hingga akhirnya saat ini mencapai angka yang fantastis.
Entah apalagi
yang akan Nenek jual untuk menutupi hutang Paman kali ini. Hanya ada kebun dan
sawah berpetak kecil yang tersisa, dan tentu saja rumah tuanya. Rumahnya yang
sudah lapuk dimakan usia itu tak mungkin Nenek jual, karena disanalah Nenek
memulai hidup dengan Kakek dulu. Rumah itulah yang menjadi saksi bahwa Nenek
membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang, dengan didikan yang baik. Dan
rumah itu pula yang menjadi saksi kedurhakaan anak pada Ibu yang telah
membesarkannya. Macam paman. Bibi sudah
menyerah. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Bapak rasanya sudah malas
mendengar nama Paman. Hanya Nenek yang tetap bersikukuh dan terus berjuang membela
Paman. Menahan agar orang-orang yang saat ini
berkumpul di rumahnya tak menyakiti dan melaporkan Paman ke pihak
berwajib. Karena harapan nenek hanya satu, Paman akan berubah setelah kejadian
ini.
Aku hanya
berharap Nenek di berikan kesabaran yang lebih lebih dan lebih untuk menghadapi
cobaan yang luar biasa di masa tuanya ini. Di berikan kesehatan lahir dan
batinnya. Dan semoga aku sebagai cucu pertama Nenek diberikan kesempatan untuk
membahagiakan Nenek. Tunggu aku Nek. Doakan cucu mu agar menjadi orang sukses
yang kelak akan menutup semua luka di hati Nenek karena kelakuan Paman saat
ini. Aamiin J
0 komentar:
Posting Komentar