Minggu, 09 Agustus 2015

Harapan Nenek untukmu Paman



Harapan Nenek untukmu Paman

28 Juli 2015
Wajahnya kian menua. Usia dan beban hidup seolah membuatnya tak memikirkan hal itu. Bukan, kali ini aku bukan menceritakan Ibu. Ibu masih terlalu cantik untuk aku katakan tua. Wanita yang ku maksud kali ini adalah Nenek.
            Nenek yang sendiri, tanpa kakek. Kakek meninggal tepat ketika usia ku tujuh bulan dalam kandungan. Ketika cucu pertamanya akan segera menemuinya.
Nenek pernah bercerita, dulu kakek begitu menginginkan seorang cucu. karena anak-anak tertua meninggal sebelum menikah, maka Ibu lah yang menjadi korbannya. Ibu harus menikah di usia muda. Padahal saat itu ibu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Anak Nenek dan Kakek sebenarnya ada Sembilan. Tapi Allah hanya memberikan kesempatan tiga orang untuk mendampingi Nenek dan Kakek hingga usia lanjut. Ya, Allah memanggil enam orang saudara Ibu.
Melihat kondisi Nenek sekarang, rasanya aku tak tega. Merasa malu dengan kelakuanku yang jauh dari teladan Nenek. Bagaimana tidak? Tubuh Nenek yang kecil, tak pernah diam dirumah. Kebun dan sawah tak pernah lupa ia kunjungi. Tiga hari dalam seminggu, nenek selalu mengikuti pengajian yang jaraknya lumayan jauh. Bahkan ada satu tempat yang sampai harus menyebrang desa. Malam harinya, Nenek mengajar ngaji anak-anak kecil. Bermakna sekali rasanya hidup Nenek. Berbeda dengan cucu pertama mu ini Nek, sama sekali tidak produktif bahkan diusia mudanya.
Saat ini Nenek tengah menangis. Dan aku tahu, hampir enam bulan ini tak pernah nenek lewati tanpa air mata. Di atas sajadah cokelat  itulah engkau menumpahkan air matamu, mengadukan segala beban hidupmu, mengirim beribu harap dan berjuta doa untuk anak-anak  mu. Terutama untuk Paman.
Akhir-akhir ini paman memang berulah. Aku tak tahu persis bagaimana permasalahannya. Yang aku tahu paman saat ini tenggah di lilit hutang. Bibi dan Ayah memberitahuku bahwa hutang nya mencapai 150 juta. Aku tercengang mendengar nominal itu. Uang sebanyak itu bisa membiayai kuliahku hingga lulus, batinku.
Bibi bilang, selama enam bulan ini banyak sekali orang-orang yang datang kerumah Nenek, menagih hutang paman. Coba bayangkan bagaimana perasaan Nenek? Tak tahu apa-apa, tiba-tiba orang-orang datang dan memaksa Nenek untuk melunasi hutang anak sulungnya itu.
Aku bukan ingin menjelek-jelekkan paman. Bukan pula tak kasihan dengan permasalahannya. Hanya tak habis pikir. Bukankah selama ini sebagian harta Nenek, sudah dihabiskan paman. Sawah dan kebun sudah Nenek jual untuk untuk menutupi hutang Paman yang telah lalu.  Lalu kenapa bisa Paman saat ini memiliki hutang sedahsyat itu? Itu sama saja membunuh Nenek secara perlahan. Tak kasihan kah paman pada Nenek? Ibu Paman sendiri?. Bagiku perbuatan Paman itu lebih dari tega, lebih dari keterlaluan. Nenek yang ringkih seperti itu, Paman timpah dengan beban yang Paman sendiri tak sanggup memikulnya.
Pantas saja ketika hari raya kemarin, aku merasa ada yang aneh di rumah Nenek. Aku melihat sepasang kaki terlentang di kamar gudang itu. Akhirnya aku tahu, itu adalah kaki Paman. Paman yang sedang bersembunyi dari kejaran mereka-mereka yang menagih hutang kepada Paman. Nenek memang selalu membela Paman. Selalu berharap Paman akan berubah. Paman bisa usaha dengan baik, dan menghidupi keluarga Paman dengan layak.
Idul fitri kemarin, keluarga Paman datang berkunjung. Istri dan anak-anak Paman datang silaturahmi ke rumah Nenek. Tak sengaja aku dengar, istri Paman mengatakan bahwa Paman tidak pulang selama lima bulan. Dan Riki, sepupu laki-laki ku yang tak lain adalah anak pertama Paman, sekarang sudah lulus SMP. Ku coba tanya dia mau melanjutkan sekolah kemana. Tapi dia mengatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan sekolahnya Akan ikut bekerja dengan saudara Ibunya di Jakarta. Namun tadi pagi aku baru tahu, Bibi menceritakan kalau dia sebenarnya  ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Air mata ku tertahan. Bisa dia mengatakan kepadaku tak ingin sekolah, padahal hatinya berteriak mengatakan sebaliknya. Aku tahu maksudnya, dia tak ingin  menyusahkan orang tuanya dan tak ingin dikasihani oleh siapapun.
Andai aku bisa bertanya kepada paman. Apa Paman tidak memikirkan mereka? Anak-anak paman kah yang harus menanggung bebannya?. Belum lagi anak perempuan Paman yang masih berusia enam tahun, tentu ia akan menanyakan keberadaan Ayahnya yang tak kunjung pulang ke rumah. Menyisakan bingung Ibunya yang tak tahu hendak menjawab apa.
Tahukah Paman, permasalahan Paman ini tak hanya berimbas pada keluarga Paman dan Nenek. Keluarga ku pun terkena imbasnya. Ibu dan Bapak tak jarang bertengkar karena permasalahan ini. Ibu yang selalu meminta Bapak membantu permasalahan Paman. Ikut menutup hutang Paman yang seabreg itu. Ya, Bapak sering keberatan. Karena menurut Bapak, bukan hanya sekarang Paman terlilit hutang. Berulang-ulang kali Bapak membatu melunasi hutang Paman, meski Bapak sendiri harus mendapatkan uang itu dengan meminjam. Bapak mungkin bosan dengan sikap Paman yang tak kunjung berubah. Malah semakin menjadi hingga akhirnya saat ini mencapai angka yang fantastis.
Entah apalagi yang akan Nenek jual untuk menutupi hutang Paman kali ini. Hanya ada kebun dan sawah berpetak kecil yang tersisa, dan tentu saja rumah tuanya. Rumahnya yang sudah lapuk dimakan usia itu tak mungkin Nenek jual, karena disanalah Nenek memulai hidup dengan Kakek dulu. Rumah itulah yang menjadi saksi bahwa Nenek membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang, dengan didikan yang baik. Dan rumah itu pula yang menjadi saksi kedurhakaan anak pada Ibu yang telah membesarkannya. Macam paman.  Bibi sudah menyerah. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Bapak rasanya sudah malas mendengar nama Paman. Hanya Nenek yang tetap bersikukuh dan terus berjuang membela Paman. Menahan agar orang-orang yang saat ini  berkumpul di rumahnya tak menyakiti dan melaporkan Paman ke pihak berwajib. Karena harapan nenek hanya satu, Paman akan berubah setelah kejadian ini.
Aku hanya berharap Nenek di berikan kesabaran yang lebih lebih dan lebih untuk menghadapi cobaan yang luar biasa di masa tuanya ini. Di berikan kesehatan lahir dan batinnya. Dan semoga aku sebagai cucu pertama Nenek diberikan kesempatan untuk membahagiakan Nenek. Tunggu aku Nek. Doakan cucu mu agar menjadi orang sukses yang kelak akan menutup semua luka di hati Nenek karena kelakuan Paman saat ini. Aamiin J

0 komentar:

Posting Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com