Minggu, 09 Agustus 2015

Bayangan Hitam di Dinding Putih



19 Juni 2015
02 Ramadhan 1436 H

Pandanganku mengikuti banyanganmu, iya hanya bayangan hitammu yang tercetak di dinding putih itu. Tak pernah aku lepas pandanganku dari bayangan hitam itu. Tak pernah lepas, hingga akhirnya aku mendengar suaramu. Suaramu yang kemudian menghanyutkan aku dan beberapa pasang mata yang lain. Menyejukkan, membawa ku dan beberapa pasang mata berada dalam kekhusukan. Ku puji suaramu dalam hati, ku kagumi apa yang kamu lakukan malam ini. Aku tersenyum ketika kamu telah selesai mengucapkan salam. Lantas kemudian kembali berdiri untuk memulai rakaat yang baru. Aku tak dapat melihat wajahmu. Jangankan wajah, punggungmu pun tidak. Hijab itu terlalu tinggi, tak memungkin kan aku melihat kamu sang pemilik bayangan hitam di dinding putih. Hanya suaramu lah yang membelaiku. Membelai hatiku dengan lantunan kalam illahi yang kau ucapkan, menerbangkanku dengan sayap-sayap lembut suaramu.
            Sungguh, Ramadhan dimalam ketiga ini aku beruntung dapat melakukan kewajiban seorang hamba bersamamu, dengan waktu dan tempat yang sama meski kamu tak benar-benar tertangkap oleh lensa mataku. Kamu sosok baru yang aku kagumi dalam diam. Meski hanya menatap bayangan, dan tak bertatap dengan sang pemilik suara lembut pelantun kalam illahi, itu bukan masalah bagiku. Bukan alasan untuk tidak mengagumimu meski hanya dalam diam. Biar Allah yang tahu bagaimana ucap pujianku terhadapmu, bagaimana bahagianya aku menatap bayangmu, dan biarkan hanya Allah yang tahu apa yang kurasa ketika mata ini terpejam saat kamu melantunkan kalamNya.
            Terimakasih untuk keindahan dan kebahagiaan malam ini. Semoga di malam esok aku masih melihat bayanganmu di dinding putih yang sama dan mendengar lantunan kalam Allah dengan suara lembut yang sama. Ku nanti esok malam. J
#gadisbermukenaputih J
-bersambung-

0 komentar:

Posting Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com