Rabu, 20 Agustus 2014

“Panggilan Hati tak terpungkiri”

“Imas Rismawati”
19 Maret 2013

“Daaaarrrrrr…..!!!!!!!!!!”
Meilani mengawali pertemuannya dengan kata-kata yang membuat Risya terkaget.
“Hayoo lho… ngelamun lagi kan….???? Kenapa sih,?? Kok akhir-akhir ini sering banget ngelamun gak jelas kaya gitu” kata Meilani sambil menyimpan tasnya.
“Ngga kok… siapa bilang melamun, orang aku lagi mikir” kata Risya dengan sedikit gugup.
“hah,,  Lagi mikir,?? Ehh Risya, emang aku anak kecil apa, bisa dikibulin kaya gitu. Dasar lho. ”
“Hehe,,, “ Risya tersenyum sendiri dengan wajah yang terlihat aneh.
“iiiigghhh senyum-senyum sendiri, jadi takut aku deket kamu, udah ah, ke kantin yukk.. belum sarapan nih..” kata Meilani sembari menarik tangan Risya.
Setibanya di kantin, ternyata Meilani masih penasaran, dia bingung dengan kelakuan sahabatnya akhir-akhir ini.
            “Ehh,  sya.. kamu kenapa sih..?? cerita dong…” pinta meilani mengawali pembicaraan.
            “ehm,,, cerita gak ya,,????” Risya menjawab dengan nada yang mengolok-olok pertanyaan sahabatnya itu.
            “Akh, kamu…!!!! Masa sama sahabat sendiri main rahasia-rahasiaan sih, kalo punya kebahagiaan bagi-bagi kenapa.” Kata Meilani yang mulai kesal dengan tingkah Risya yang so misterius.
            “Iya… iya.. gak usah cemberut gitu donk, haha” lagi-lagi Risya mengolok-olok sahabatnya.
            “iiiehh apaan sih, udah cepetan cerita…!!!!” pinta Meilani dengan emosi.
Risya pun menceritakan apa yang membuat dia selama ini menjadi aneh, ternyata Risya sedang menyukai seorang lelaki yang di temui nya ketika ia menghadiri seminar di suatu acara minggu lalu. Lelaki itu sekarang duduk di kelas XII, lebih tinggi setingkat di banding Risya sendiri, dia ber sekolah di sekolah kejuruan negeri di kota itu.
            Risya mendapatkan semua informasi dari kawannya Lina yang juga satu sekolah dengan lelaki itu. Katanya, Lelaki itu bernama Yudi. Bahkan dia pun mengaku bahwa dia juga sempat menyukai lelaki yang bernama Yudi itu, ketika ia pertama masuk sekolah. Semenjak itu, Risya sibuk mencari semua hal yang berhubungan dengan Yudi, dari mulai fb, twitter, email, hanya saja ia tak berani jika harus melalui via handphone.
Yudi sebenarnya adalah lelaki yang dulu pernah Risya sukai, Risya bertemu dan mengenal Yudi awalnya adalah ketika mereka berlatih tari di sebuah sanggar tari, Risya menyukai Yudi karena kesopanannya terhadap wanita, karena waktu itu ada perbuatan Yudi, yang secara tidak sengaja membuat Risya tertarik.  hanya saja waktu itu, Risya sama sekali tidak mengetahui informasi sedikit pun mrngenai lelaki itu.
Percakapan Risya dan Meilani terhenti, tatkala bel tanda pelajaran akan di mulai berbunyi.
            “Ehh,, bel nya bunyi tuh, tapi ceritanya nanti lanjutin yah, awas lhooo kalo ngga” kata Meilani dengan nada mengancam.
Risya hanya tersenyum seraya membulatkan jempol dan telujuknya,  yang menandakan ia setuju.

Ketika dalam perjalanan pulang, Meilani meminta Risya melanjutkan ceritanya.
“Sya, emang kak Yudi nya belum punya pacar yah,,??” Tanya Meilani dengan antusias.
“Hmmm…. udah,,!!!!!” Jawab Risya dengan nada datar.
“Hah udah…!!!!! Terus kamu gimana,,???” Tanya Meilani semakin ingin tahu.
“ya,, nggak gimana-gimana” jawab Risya dengan santai sembari mengotak-atik handphone yang di genggamnya.
“Risya Seriuuusss…!!!!!” Meilani mulai kesal dengan jawaban-jawaban Risya yang seenaknya.
“Ini juga udah serius Meilani handa Pratiwi” jawab risya, lagi-lagi dengan nada yang santai.
“Truss, kamu tetep suka gitu sama laki-laki yang udah punya pacar..???” Meilani bertanya dengan air muka yang serius.
“Ya gak ada masalah kan, kalo hanya sebatas suka,.” Jawab Risya dengan enteng.
“ ya tapi kan, tetep aja itu namanya kamu merusak hubungan orang lain, dan lagi pula nantinya kamu juga kan yang sakit hati.”Meilani mencoba memberi penjelasan kepada Risya.
Risya tiba-tiba memandang wajah sahabatnya itu dengan air muka yang berbeda, nampaknya ia tersinggung dengan perkataan sahabatnya itu.
“Merusak apanya maksud kamu,,?? Aku gak ngapa-ngapain kok, aku Cuma suka sama dia, aku juga gak berharap jadi sipa-siapanya dia. So, Aku gak bakalan ganggu dia sama pacarnya, lagi pula selama ini, aku melihat statusnya, tidak ada satupun kata-kata yang berkaitan dengan pacarnya, itu berarti dia gak terlalu suka kan sama pacarnya itu.” Risya menjawab penuh emosi.
Meilani yang mendengar jawaban Risya seperti itu, sedikit tersentak dan segera meminta maaf.
            “sya,, marah yah,,??? Kata-kkataku salah yah,,?? Maaf sya, aku gak bermaksud seperti itu, aku Cuma gak mau kamu salah langkah sya.” Meilani berkata penuh penyesalan.
            “udah lah,, aku juga ngerti kok maksud kamu,..!!!!”  Risya menjawab dengan ketus, dan seketika berlari membiarkan Meilani berjalan sendiri.
Meilani melanjutkan langkahnya dengan rasa penuh penyesalan.

Keesokan harinya, disekolah,,,,
 Meilai melihat Risya di pojok kelas, dan nampaknya ia sedang menangis…. Meilani segera menghampirinya, dan segera menyatakan penyesalannya atas kejadian kemarin.
Risya yang menangis, seketika memeluk sahabatnya yang sedang meminta maaf kepadanya, di pelukan Meilani tangisnya semakin menjadi.
            “Sya,, kamu kenapa,?? Kamu masih marah sama aku. Sya aku minta maaf sya,” Kata Meilani dengan perasaan khawatir.
Risya tak menjawab sepatah katapun, ia hanya mampu menggelengkan kepalanya.
            “Terus kenapa sya, cerita sama aku..” pinta meilani.
Risya melepaskan pelukannya, dan menceritakan semuanya.
            “La,, ternyata omongan kamu kemarin bener, aku yang akan sakit hati.” Jawab Risya denagn tersedu.
            “Lho.. kok bisa,,??? Kenapa emangnya,,???” Tanya meilani keheranan.
            “Semalem, seperti biasa, aku melihat  wall facebook kak Yudi, terus aku liat dia bikin status yang isinya “I Love U”, dan yang bikin aku tambah sedih, nama pacarnya tuh di tulis la, mereka coment-comentan dengan kata-kata yang……” Risya kembali menangis dan memeluk Meilani.
            “Lantas, kenapa kamu harus sedih sya,,?? Ingat kata-kata kamu kemarin,,?? Kamu tidak mengharapkan apa-apa dari perasaanmu ini. Suka ya tetep suka, dan rasa suka itu tidak berarti kamu harus menjadi seseorang yang berarti bagi dia kan,,??? Rasa suka kamu terhadap kak Yudi, itu adalah hal yang di inginkan oleh hati, kamu sendiri pun tak mampu memungkiri bahkan menentang hati mu itu. Jadi,, kalo kamu suka sama kak Yudi, ya biarkan saja, toh itu adalah panggilan dari hatimu kan, bukan kemauan mu..??? Sekarang jangan nangis lagi ya,,,”
            “Jadi aku masih boleh suka sama kak Yudi,,???” Tanya Risya sembari menatap wajah sahabatnya.
            “tentu saja boleh, kenapa tidak. Asalkan kamu ingat dengan janjimu, kamu tidak mengharapkan apapun dari perasaanmu ini. Dan ingat… tetap kendalikan perasaanmu, jangan sampai menggangu apalagi merusak hubungan kak yudi sama pacarnya” jawab meilani dengan bijak….
Risya mengucapkan Terimakasih dan kembali memeluk tubuh sahabatnya yang mungil itu.
            “Udah yu sedih-sedihannya, mending anter aku ke kantin.. Lapeerr niihh” ajak Meilani dengan gaya konyolnya.
Risya pun kembali tersenyum berusaha meyakinkan dan menegarkan hatinya…
 dan tangisnya pun berlalu terseret langkahnya bersama Meilani…….



BELAJAR Atau BERCANDA,,,????




Imas Rismawati
18 Maret 2013

“Hahahahaha…… hahahahh….. haha….”
Gelak tawa terdengar dikelas kami, semua bibir terlihat menyunggingkan senyuman..
Hanya dia, yah lelaki itu terlihat tak tertarik sedikit pun dengan candaan yang di layangkan oleh seorang siswa di kursi belakang.
Berkali-kali kami menertawakan hal yang  tak jelas, namun mampu mengundang tawa, berkali-kali pula aku melihat dia sibuk sendiri dengan bukunya. Hmm… aku pikir, dia lelaki paling membosankan di kelas ini, sama sekali tidak memiliki rasa humor. Bahkan aku sempat berfikir, apa mungkin yah bibirnya di ciptakan bukan untuk tertawa, bahkan untuk sekedartersenyum.
Pagi itu,,
Ketika pelajaran Matematika, rasanya aku tak kuasa melihat angka-angka yang sejak sejam yang lalu menari-nari di atas kepusinganku.
Tiba-tiba, Widi teman sebangku ku menyarankan agar aku mengusik kenyamanan Riki ‘Lelaki tanpa tawa’ yang sejak tadi serius memperhatikan penjelasan Pak Deri di depan kelas.
Mendengar saran itu,rasanya  ide-ide ku bermunculan. Otakku berfikir lebih cepat jika berhubungn dengan yang jail-jail. Huhhh emang aneh ni otak.
Aku merobek selembar kertas, kutuliskan sesuatu di atasnya, lalu ku remas kertas itu dan Peeesssstttt… ku lempar kertas itu kearah Riki. Aku dan Widi tertawa, namun tawa kami terhenti, manakala Riki tak sedikit pun menghiraukan kertas itu, bahkan untuk sekedar membacanya saja pun tidak.
Ku coba lempar kertas ke dua, Ppeesssttttt…….. bruugg,,!!!!. Tepat sasaran. Namun, tak ada beda dengan lemparan yang pertama. Bukannya bosan, aku malah semakin penasaran, kusiapkan kertas ketiga, kali ini kertasku lebih besar, agar nantinya bisa terasa kalo kena kepalanya.
Ku remas senjataku yang ketiga ini, ku tiup-tiup kertasnya, berharap bisa pas mengenai sasaran. Dan peeessssttt……. Brugg….!!!!!!  
Yeahhhh,,,, tepat sasaran,,,,!!!!!
Tapi.. tapi lagi-lagi Riki tak meresponnya,..!!!
Huuuhh…. Aku dan Widi menyerah….
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Riki perlahan membungkuk dan mengambil kertas-kertas yang tadi aku lemparkan. Ku Lihat, Dia memang tak membacanya, tapi malah memasukkannya ke dalam tas. Aku dan Widi saling berpandangan, perasaan aneh dan bingung tersirat di wajah kami berdua.
Bel,,, tanda  istirahat berbunyi…
Aku segera berlari keluar, karena aku sudah tak sanggup menahan hasrat ingin pipisku…
 “Huuft,, akhirnya beres juga”  kataku ketika keluar dari kamar mandi.
Mataku tersentak, ketika menemukan Riki sedang duduk di ujung jalan menuju kamar mandi, hatiku tiba-tiba saja terasa dag dig dug,,,!!!! Aku takut Riki marah dengan perbuatan ku di kelas tadi. Aku tak bisa menghindar, karena satu-satunya jalan ke kelas, adlah aku harus melewati ujung jalan itu.
Aku menarik nafas,,, memberanikan diri…!!! Perlahan langkahku kian dekat dengan sosok Lelaki tanpa tawa itu,, dan ketika aku di hadapannya,,,,, dia sama sekali tak mengacuhkan ku, hal yang aku takutkan ternyanyata tak terjadi.
“Huufffttt… aku selamat…” kata ku berbisik.
Setelah beberapa langkah dari bangku itu, terdengar seseorang memanggilku
“Rara…!!!!!!”
Aku celingukan mencari suara itu, dan ternyata,, OMG… Riki memanggilku. Aku mendadak gugup, jantungku memompa darah dengan kecepatan di atas 80 km/jam.
Riki menghampiriku,… dan kini berada tepet di hadapanku.
“kamu yang Melempar 3 kertas ini kan..????”  Tanya Riki dengan wajah marah sembari menggenggam 3 kertas.
Aku bingung,.. otaku tak mampu bekerja dengan cepat. saat ini rasanya aku sedang berada di pengadilan, dan menjadi terdakwa.
Aku beranikan diri menjawab sekenanya.
“Memang aku yang melemparnya,,  Lantas Kenapa,,,???” kataku dengan nada so Galak.
Tau apa yang terjadi……??????#
Tiba-tiba saja air mukanya berubah,. Riki yang tadi terlihat begitu marah, kini malah tersenyum seraya berkata
“Lain kali kalau mau bercanda, jangan seprti itu yah”
Hiii,,, rasanya baru kali ini aku melihat laki-laki ini tersenyum,, senyumnya begitu lepas,, sembari menampakkan wajah yang bersahabat.!!! Seketika air muka ku pun berubah, dengan tingkah seperti orang bodoh, aku meminta maaf kepada Riki…
“Hehe… maaf yah, aku Cuma iseng kok..!!!! maaf yah kalo ganggu”
“Iya. Gak apa-apa kok, ini aku kembaliin kertas kamu”  Katanya sambil menarik tangan ku dan memberikan kertas-kertas yang tadi ku lempar.
Riki mengajakku duduk di tempat ia tadi membaca, kami bercakap-cakap mengenai banyak hal, itu adalah percakapan pertamaku dengan lelaki yang selalu ku sebut  ‘Lelaki tanpa tawa” itu.
Dari percakapan itu, Riki mengajarkanku, Bahwa ketika belajar di dalam kelas, maka kita harus serius dalam memperhatikan penjelasan-penjeasan yang di berikan Guru. Dan kini aku mengerti mengapa selama ini Dia tak pernah tertawa di dalam kelas, katanya sih.. Dia takut kalau tertawa, itu akan membuat guru tersinggung. Dan dia tidak menyukai itu.
Tapi aku katakan padanya, kita sekolah, selain untuk menuntut ilmu, tapi juga untuk belajar bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Dalam belajar, kita memang harus serius, tapi serius bukan berarti tidak pernah tertawa, dan tertawa bukan berarti kita tidak menghargai guru. Semua moment kita di sekolah ini, tidak akan pernah terulang di masa depan, jika saat ini tidak dilalui dengan senyuman dan tawa., maka apa yang akan kita kenang di masa depan,,??? Apakah hanya duduk dan memperhatikan papan bor,,???
Aku dan Riki sama-sama mendapatkan pelajaran dari pembicaraan singkat itu. Aku belajar bahwa dalam belajar, tak selalu harus bercanda, ada kalanya kita harus serius memperhatikan pelajaran. Dan Riki juga dapat mengambil kesimpulan, bahwa dalam belajar, tidak selamanya harus serius, tawa dan canda pun penting untuk merefresh otak yang selalu di tekan untuk belajar.




Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com