Tampilkan postingan dengan label Cerita nyata kehidupanku.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita nyata kehidupanku.. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2015

PERBINCANGAN HARI INI

04 Agustus 2014

Bercengkrama bersama keluarga, membicarakan hal-hal yang ringan. Hanya bersama mama sih, adik-adikku sibuk dengan mainannya masing-masing. Adik laki-lakiku sibuk dengan layang-layangnya, yang entah sampai kapan pembuatannya selesai. Karena aku perhatikan, hampir setiap hari ia membuat layang-layang baru. Berbagai alasan ia kemukakan jika ditanya perihal itu. Layang-layangnya tersangkut lah, putus lah, sampai layangannya ia jual.  Ah, sudahlah. kali ini aku bukan ingin membahas masalah layang-layang.
Bapak sedang tak dirumah, beliau pagi-pagi sekali mengantar si Abah yang entah mau kemana. Mama dan adik perempuanku baru saja tiba dari acara pernikahan di kampung sebelah. Lah aku sendiri sebenarnya tak jelas apa yang tengah aku lakukan. Maklumlah libur sekolah, libur pula aktivitas di rumah. Hehe..
Ketika sedang asyik berbincang di ruang depan, melintas sepeda motor yang di kendarai laki-laki muda membonceng gadis remaja yang masih mengenakan seragam putih abunya. Mama bertanya padaku, “apakah aku mengenal gadis itu?”. Aku mencoba mengingat-ingat dengan hanya ada satu petunjuk, yaitu logo sekolah yang tertempel di seragam putihnya yang selintas terlihat  olehku. Aku tahu dia berasal dari sekolah mana, tak begitu jauh lah dari sekolahku yang dulu. Tapi rasa-rasanya tak ada siswi yang berasal dari sekolah itu di sekitar kampungku. Aku balik bertanya pada mama, “kenapa memang dengan gadis itu, tak biasanya mama meneliti orang yang melintas di depan rumah?”.
Dan oh ternyata,.. mama tadi sempat melihat gadis itu di salah satu rumah dikampung sebelah. Yaa.. dengan perilaku yang tak sepantasnya dilakukan oleh wanita, apalagi sebagai pelajar. Aku tahu rumah yang mama maksud. Letaknya memang berada di pojok dekat hutan. Pantas saja mama begitu ingin tahu siapa gadis itu.
Mama sempat menyayangkan, gadis muda itu pastilah pamit kepada orang tua untuk memasuki gerbang ilmu. Pastilah di  bekali doa yang tak pernah berhenti terucap dari bibir sang pendoa yakni ibu. Tapi ternyata ia malah berbelok menuju gerbang kemaksiatan mengacuhkan rintihan doa seorang ibu. Aku tahu mama berkata seperti itu agar hal itu menjadi pelajaran bagiku. Pelajaran agar aku mengetahui siapa aku, dan bagaimana aku harus berperilaku.
Aku sendiri amat sangat menyayangkan. Gadis  muda yang hanya baru menginjak beberapa tangga kehidupan, dengan kesuksesan yang sebenarnya menanti dimasa depan,  harus terjatuh dan sulit menapaki tangga berikutnya. Membiarkan kebahagiaannya melayang, hanya karena takut di putus si ayang. Aku tahu siapapun yang tersentuh oleh rasa yang disebut cinta yang dibalut oleh nafsu biadab pastilah akan terlupa dengan tujuan hidupnya bahkan mungkin terhadap Tuhannya.
Apakah seperti itu cara mencintai?
Merusak masa depan seseorang yang akan menjadi masa depannya. Menyengsarakan seseorang yang kelak akan menjadi keluarganya. Sepertinya hanya beberapa orang saja yang mampu mengendalikan dan menjaga cinta yang dimilikinya. Tetap mencintai meski hanya tersimpan dalam hati, tetap bahagia meski hanya tertanam dalam dada.
Aku sendiri bukan gadis suci yang tak pernah luput dari jerat kemaksiatan. Bukan wanita muslimah yang pandai menyimpan perasaan. Aku dan dia sama-sama perempuan, sama-sama tengah menuntut ilmu, sama-sama memiliki godaan sebagai remaja. Tapi aku harap aku tak pernah memiliki perilaku yang sama dengannya. Aku menulis seperti ini bukan maksud apa-apa, apalagi untuk menjelekkan orang lain. Aku menulis karena aku berharap tulisan ini mampu menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Pengingat ketika aku mulai lupa tujuan hidupku, pengingat ketika aku terlena oleh indahnya dunia dan tentunya menjadi pelajaran bagiku yang saat ini dalam tahap menuntut ilmu untuk benar-benar meluruskan niat dan tetap menjadikan keluarga sebagai cambuk dalam perjalananku.

Indah dengan sendirinya

Akhirnya ada yang sadar juga, bahwa ada sesuatu yang spesial di pelataran masjid sana. ku kira hanya aku yang mengaguminya.
ini bisa dikatakan sakura nya Indonesia. cantik. cantik sekali. apalagi ketika dihiasi langit malam. memesona.
Foto ini diambil 3 tahun yang lalu. 12 Oktober 2012. Dan saat ini, tanaman ini masih konsisten menebar keindahannya. menyelipkan rasa yang menyejukkan kala menatapnya. ya, 12 Oktober 2015 bunga kuning ini sedang cantik cantiknya, menghias pelataran masjid.
"Sebenarnya aku menyukai mu sejak awal. sejak pertama aku mengenal mu di salah satu kota di Jawa Timur. berbaris rapi, menghias jalan yang saat itu tengah aku lewati. Dan ternyata kita kembali bertemu. Disini. Dibelahan pulau jawa yang berbeda, Bandung Jawa Barat.
Kamu disini sebatang kara. tidak lagi berberis di pinggir jalan dengan kawan-kawanmu yang tak kalah cantik. kamu lebih memilih tumbuh diantara riuhnya aktivitas dunia kampus. Dunia yang cenderung berjalan lurus tanpa peduli kehidupan disekitarnya. Dunia dengan para penghuninya yang sulit meluangkan waktu untuk sekedar melirik dan memujimu.
Aku bangga padamu. kamu tak pernah menganggap semua itu masalah. Tak pernah mengharap siapapun untuk melihatmu dan kemudian memujimu. Kamu tetap memberikan keindahan bagi mereka yang tak mengindahkanmu. kamu tetap indah dengan warnamu. kamu tetap indah dengan ketulusanmu. kamu tetap indah dengan kesetiaanmu. Aku menyukaimu.
Tetaplah disana, temani kami. temani aku yang selalu butuh kesejukkan dari indahmu. Tetaplah disana dipelataran masjid, tempat kami menjalin kasih dengan yang maha kasih. tetaplah disana hingga aku pergi. dan kelak akan datang, hanya untuk menemuimu kembali.
Indahmu adalah inspirasi bagiku."

Senin, 28 September 2015

Idul Adha 2015


Idul Adha? kapan? besok? kok aku masih disini? dimana? ya disini? masih di alam dunia kan? bersyukurlah kamu.
apa sih itu. aneh bacanya. hahaha
besok idul adha, hari raya agung, hari berqurban. H-1 aku masih menjalani rutinitas di kampus. meski untungnya diliburkan untuk jadwal praktikum.
tenang, untuk kali ini rasanya aku mulai terbiasa melewati hari raya jauh dari orang tua. aku mulai terbiasa? atau terpaksa terbiasa? entah.
idul adha yah? jadi ingat beberapa tahun lalu, ketika masih aktif di organisasi intra di SMA. dulu, sehari sebelum idul adha aku masih disekolah membereskan surat-surat untuk kegiatan LDKS. sampai magrib menjelang, aku masih diruang OSIS bersama dua rekan laki-lakiku. dia lah sang ketua dan wakilnya.
surat yang bertumpuk, belum di cap dan belum dilipat itu seolah menahanku agar tetap di ruangan itu. hingga setelah adzan berkumandang, bapak datang menjemput. tentu saja aku harus pulang, masa bodo dengan tumpukkan kertas itu. aku seperti lupa akan tanggung jawabku ketika melihat wajah bapak dan adikku menjemput.
bergegas pulang, meningggalkan dua rekanku. segera naik motor tua bapak dan mampir sebentar dikosan untuk mengambil baju. baju kotor yang akan dicuci di rumah. hehehe..
kosan ternyata sudah sepi. tak tersisa satu orang pun, yaa kecuali ibu kostnya. motor tua mulai melaju, menembus angin malam di tengah kumandang takbir yang menggema. bersama bapak, akan selalu indah. bersama bapak, kemanapun aku senang.
tak terasa, keadaan sekarang amat berbeda. jarakku terlalu jau untuk bapak jemput dengan motor tuanya, seperti waktu itu.
mudah-mudahan bapak diberikan kesehatan selalu disana. aamiin..

Rabu, 12 Agustus 2015

Oh, Rangga?





Siang ini begitu terik, nampaknya matahari sedang membalaskan dendamnya hari ini karena kemarin ia tak diberi kesempatan untuk memamerkan sinarnya. Tertutup awan pekat seharian penuh. Hari ini pun hari keberuntungan untuk kelasku, pasalnya Dosen tauhid tak berminat masuk, entah kemana tanpa kabar. Membiarkan kami menunggu 30 menit lamanya lalu kemudian memutuskan membubarkan diri membiarkan kelas tak berpenghuni. Berhamburan dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang langsung ke kantin, ada juga yang merencanakan mengerjakan tugas untuk sabtu besok, dan beberapa lagi ada yang pergi ke gedung student center untuk mengikuti audisi biology voice yang memang pendaftarannya dimulai hari ini. Aku pun seharusnya ikut kesana. Mengikuti audisi itu. Sedikit aneh memang orang sepertiku mengikuti grup yang menjadikan suara sebagai modal utama. Tentu saja bukan karena aku merasa suaraku merdu atau bagaimana, hanya saja aku ingin bisa bernyanyi. Untuk apa? Itu rahasia, ada misi yang aku rencanakan untuk nanti dimasa depan.
Tapi kali ini aku tak bisa mengikutinya, ada hal yang lebih penting. Aku harus ke kantor pos.
Menuruni tangga dengan canda tawa yang terdengar dari mereka yang berlalu lalang. ada yang naik dan ada yang turun sepertiku.
Sampai dilantai satu, tepat dibawah tangga kulihat ada meja kecil dengan hiasan kertas karton dan origami yang berwarna warni. Tampak ramai dengan orang-orang yang mengerumuninya. Aku penasaran, karena seingatku tadi pagi tak ada kerumunan macam ini. Kusempatkan melihat dan menghampiri kerumunan itu. Baru selangkah mendekat, terdengar teriakan-teriakan dari mereka yang memintaku untuk mendekat dan membaca selebaran penuh warna.


“Sini teh, ayo gabung sama kita. Banyak lho teh jenis perlombaannya” kata salah satu perempuan yang antusias menyuruhku mendekat sambil menunjuk-nunjukkan selebaran.
Aku sedikit bingung, belum sempat aku membaca selebaran yang ia berikan, lagi-lagi perempuan tadi dengan semangat menjelaskan semuanya. Aku mengangguk-anggukkan mencoba mencerna apa yang dikatakannya. Dan akhirnya aku tahu ternyata ini adalah stand pendaftaran berbagai perlombaan yang diadakan Himatika. Himatika adalah semacam organisasi atau himpunan mahasiswa jurusan matematika. Kalau dijurusanku Himbiosai namanya, akromnim dari Himpunan Mahasiswa Biologi Saintek.
Kembali ke selebaran yang ku baca, di dalamnya tertulis berbagai lomba seperti lomba tulis cerpen, puisi, fotografi, edit video, dan kaligrafi. Sebenarnya aku sempat melihat pengumuman ini sebelumnya di mading depan kelas, tapi tak begitu ku perhatikan. Hanya membaca selintas, dan berlalu tak membekas.
Aku bertanya mengenai salah saatu lomaba, lomba tulis cerpen. Karena dari dulu aku tak cukup berani mengikutsertakan cerita-cerita yang pernah kutulis. Ku tanyakan bagaimana persyaratan dan ketentuannya. Kemudian memberiku selembar kertas dan aku dapat membaca semua informasi yang ku tanyakan tadi.
Kupastikan kali ini aku harus ikut, entah itu dengan karya yang jelek atau bagus apalagi masalah menang atau kalah, ah itu sama sekali tak aku pikirkan. Aku berani menulis saja, sudah merupakan kebanggaan tersendiri.
Ku tuliskan namaku di lembar daftar para peserta, cukup banyak ternyata yang berminat. Meskipun yang paling banyak pendaftarnya adalah lomba tulis puisi. Dan hei, Ada yang menarik. Tepat satu baris diatasku tertulis pendaftar dengan nama Rangga, dia mengikuti dua lomba sekaligus, tulis cerpen dan puisi. Tapi bukan perkara itu yang  membuatku tertarik. Namanya yang membuatku tersenyum tipis saat membacanya. Rangga. Nama itu mengingatkanku pada tokoh utama dalam film Ada Apa Dengan Cinta atau yang lebih dikenal dengan AADC yang diperankan oleh Nicholas Saputra. Seorang pujangga yang dingin dengan pengetahuan sastra yang luar biasa. Dan dialah yang memenangkan lomba puisi disekolahnya dan mengalahkan Cinta si anak mading yang terkenal pandai menciptakan puisi-puisi indah yang berhasil diperankan dengan baik oleh Dian Sastro Wardoyo. Wah sepertinya aku hapal sekali alur cerita dari Film tahun 2000-an itu ya?. Jelas!, selain karena aku memang suka filmnya, baru kemarin sore aku memutar kembali film lama itu di laptop. Jadi wajar saja alur dan perwatakan dari tokoh yang diperankan masih lekat di ingatanku. Film itulah yang secara perlahan membuatku menyukai sastra dan menulis. Nah, yang menjadi buah pikiranku adalah, akankah Rangga yang namanya tertulis diatas namaku itu memiliki kemampuan yang sama dengan tokoh Rangga dalam AADC? Lantas dia jugakah yang akan memenangkan perlombaan ini? Entahlah. Aku jadi penasaran dengan pertanyaanku sendiri. Akan ku tunggu karyanya, puisi dan cerita pendeknya untuk menjawab semua tanya di benakku.
Dan oh, baru kusadar, aku  harus segera pergi sebelum kantor pos di wilyah Ujung Berung sana tutup. Setelah membereskan pendaftaran berikut biaya administrasinya, aku minta izin untuk meninggalkan tempat itu. Aku kembali mengganggukkan kepala, namun kali ini pertanda aku pamit dan terdengar beberapa orang diantara mengucapkan terimakasih dengan iringan senyum yang merekah. Aku bergegas pergi dan mengingatkan diri agar tak lupa dengan misiku untuk menunggu karya seorang Rangga yang berada dalam dunia nyata.

Minggu, 09 Agustus 2015

Harapan Nenek untukmu Paman



Harapan Nenek untukmu Paman

28 Juli 2015
Wajahnya kian menua. Usia dan beban hidup seolah membuatnya tak memikirkan hal itu. Bukan, kali ini aku bukan menceritakan Ibu. Ibu masih terlalu cantik untuk aku katakan tua. Wanita yang ku maksud kali ini adalah Nenek.
            Nenek yang sendiri, tanpa kakek. Kakek meninggal tepat ketika usia ku tujuh bulan dalam kandungan. Ketika cucu pertamanya akan segera menemuinya.
Nenek pernah bercerita, dulu kakek begitu menginginkan seorang cucu. karena anak-anak tertua meninggal sebelum menikah, maka Ibu lah yang menjadi korbannya. Ibu harus menikah di usia muda. Padahal saat itu ibu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Anak Nenek dan Kakek sebenarnya ada Sembilan. Tapi Allah hanya memberikan kesempatan tiga orang untuk mendampingi Nenek dan Kakek hingga usia lanjut. Ya, Allah memanggil enam orang saudara Ibu.
Melihat kondisi Nenek sekarang, rasanya aku tak tega. Merasa malu dengan kelakuanku yang jauh dari teladan Nenek. Bagaimana tidak? Tubuh Nenek yang kecil, tak pernah diam dirumah. Kebun dan sawah tak pernah lupa ia kunjungi. Tiga hari dalam seminggu, nenek selalu mengikuti pengajian yang jaraknya lumayan jauh. Bahkan ada satu tempat yang sampai harus menyebrang desa. Malam harinya, Nenek mengajar ngaji anak-anak kecil. Bermakna sekali rasanya hidup Nenek. Berbeda dengan cucu pertama mu ini Nek, sama sekali tidak produktif bahkan diusia mudanya.
Saat ini Nenek tengah menangis. Dan aku tahu, hampir enam bulan ini tak pernah nenek lewati tanpa air mata. Di atas sajadah cokelat  itulah engkau menumpahkan air matamu, mengadukan segala beban hidupmu, mengirim beribu harap dan berjuta doa untuk anak-anak  mu. Terutama untuk Paman.
Akhir-akhir ini paman memang berulah. Aku tak tahu persis bagaimana permasalahannya. Yang aku tahu paman saat ini tenggah di lilit hutang. Bibi dan Ayah memberitahuku bahwa hutang nya mencapai 150 juta. Aku tercengang mendengar nominal itu. Uang sebanyak itu bisa membiayai kuliahku hingga lulus, batinku.
Bibi bilang, selama enam bulan ini banyak sekali orang-orang yang datang kerumah Nenek, menagih hutang paman. Coba bayangkan bagaimana perasaan Nenek? Tak tahu apa-apa, tiba-tiba orang-orang datang dan memaksa Nenek untuk melunasi hutang anak sulungnya itu.
Aku bukan ingin menjelek-jelekkan paman. Bukan pula tak kasihan dengan permasalahannya. Hanya tak habis pikir. Bukankah selama ini sebagian harta Nenek, sudah dihabiskan paman. Sawah dan kebun sudah Nenek jual untuk untuk menutupi hutang Paman yang telah lalu.  Lalu kenapa bisa Paman saat ini memiliki hutang sedahsyat itu? Itu sama saja membunuh Nenek secara perlahan. Tak kasihan kah paman pada Nenek? Ibu Paman sendiri?. Bagiku perbuatan Paman itu lebih dari tega, lebih dari keterlaluan. Nenek yang ringkih seperti itu, Paman timpah dengan beban yang Paman sendiri tak sanggup memikulnya.
Pantas saja ketika hari raya kemarin, aku merasa ada yang aneh di rumah Nenek. Aku melihat sepasang kaki terlentang di kamar gudang itu. Akhirnya aku tahu, itu adalah kaki Paman. Paman yang sedang bersembunyi dari kejaran mereka-mereka yang menagih hutang kepada Paman. Nenek memang selalu membela Paman. Selalu berharap Paman akan berubah. Paman bisa usaha dengan baik, dan menghidupi keluarga Paman dengan layak.
Idul fitri kemarin, keluarga Paman datang berkunjung. Istri dan anak-anak Paman datang silaturahmi ke rumah Nenek. Tak sengaja aku dengar, istri Paman mengatakan bahwa Paman tidak pulang selama lima bulan. Dan Riki, sepupu laki-laki ku yang tak lain adalah anak pertama Paman, sekarang sudah lulus SMP. Ku coba tanya dia mau melanjutkan sekolah kemana. Tapi dia mengatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan sekolahnya Akan ikut bekerja dengan saudara Ibunya di Jakarta. Namun tadi pagi aku baru tahu, Bibi menceritakan kalau dia sebenarnya  ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Air mata ku tertahan. Bisa dia mengatakan kepadaku tak ingin sekolah, padahal hatinya berteriak mengatakan sebaliknya. Aku tahu maksudnya, dia tak ingin  menyusahkan orang tuanya dan tak ingin dikasihani oleh siapapun.
Andai aku bisa bertanya kepada paman. Apa Paman tidak memikirkan mereka? Anak-anak paman kah yang harus menanggung bebannya?. Belum lagi anak perempuan Paman yang masih berusia enam tahun, tentu ia akan menanyakan keberadaan Ayahnya yang tak kunjung pulang ke rumah. Menyisakan bingung Ibunya yang tak tahu hendak menjawab apa.
Tahukah Paman, permasalahan Paman ini tak hanya berimbas pada keluarga Paman dan Nenek. Keluarga ku pun terkena imbasnya. Ibu dan Bapak tak jarang bertengkar karena permasalahan ini. Ibu yang selalu meminta Bapak membantu permasalahan Paman. Ikut menutup hutang Paman yang seabreg itu. Ya, Bapak sering keberatan. Karena menurut Bapak, bukan hanya sekarang Paman terlilit hutang. Berulang-ulang kali Bapak membatu melunasi hutang Paman, meski Bapak sendiri harus mendapatkan uang itu dengan meminjam. Bapak mungkin bosan dengan sikap Paman yang tak kunjung berubah. Malah semakin menjadi hingga akhirnya saat ini mencapai angka yang fantastis.
Entah apalagi yang akan Nenek jual untuk menutupi hutang Paman kali ini. Hanya ada kebun dan sawah berpetak kecil yang tersisa, dan tentu saja rumah tuanya. Rumahnya yang sudah lapuk dimakan usia itu tak mungkin Nenek jual, karena disanalah Nenek memulai hidup dengan Kakek dulu. Rumah itulah yang menjadi saksi bahwa Nenek membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang, dengan didikan yang baik. Dan rumah itu pula yang menjadi saksi kedurhakaan anak pada Ibu yang telah membesarkannya. Macam paman.  Bibi sudah menyerah. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Bapak rasanya sudah malas mendengar nama Paman. Hanya Nenek yang tetap bersikukuh dan terus berjuang membela Paman. Menahan agar orang-orang yang saat ini  berkumpul di rumahnya tak menyakiti dan melaporkan Paman ke pihak berwajib. Karena harapan nenek hanya satu, Paman akan berubah setelah kejadian ini.
Aku hanya berharap Nenek di berikan kesabaran yang lebih lebih dan lebih untuk menghadapi cobaan yang luar biasa di masa tuanya ini. Di berikan kesehatan lahir dan batinnya. Dan semoga aku sebagai cucu pertama Nenek diberikan kesempatan untuk membahagiakan Nenek. Tunggu aku Nek. Doakan cucu mu agar menjadi orang sukses yang kelak akan menutup semua luka di hati Nenek karena kelakuan Paman saat ini. Aamiin J

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com