Minggu, 09 Agustus 2015

Kapan Kita Putus?



Kapan Kita Putus?
30 Juli 2015

Tujuh tahun lalu aku mulai mengenalmu. Menyimpan sejuta kagum terhadapmu. Kamu membuat liburanku kala itu terasa semakin lengkap.
Dulu aku memang sering di ajak sepupuku berlibur ke rumah ayahnya. Karena semenjak ayah dan ibunya bercerai, ia terpisah jarak yang cukup jauh dari ayahnya. Karena itulah ketika musim liburan tiba, ia selalu ingin menghabiskannya bersama ayah dan keluarganya, di daerah pesisir sana. Aku pun sering di ajaknya. Katanya aku bisa menemaninya di perjalanan. Aku memang sepupu yang baik. Meski aku masih duduk di bangku SMP saat itu, tapi Ayu ~nama sepupuku~ sering mengatakan aku adalah teman curhat yang baik. Tentu saja. Bagaimana tidak, aku lebih banyak diam dan menjadi pendengar yang baik ketika ia bercerita. Tak banyak berkomentar. Mungkin seperti itulah yang ia anggap baik.
Saat itu aku memang hanya sekedar kenal. Meski sebenarnya secara tak sadar ada perhatian lebih yang ku taruh padamu. Ada pandangan dengan intensitas lebih terhadap sosokmu. Dan aku tahu kamu pun demikian. Kamu sering sekali terlihat gugup ketika di depanku. Masih ingat dulu, karena begitu gugupnya kamu menjatuhkan benda disamping mu. Lalu kemudian tersenyum malu kepadaku.
Saat itu tak banyak yang aku tahu tentang mu. Dan ku rasa begitu pun sebaliknya. Karena pada sasat itu, memang sahabatmu lah yang lebih akrab ~sok akrab tepatnya~ denganku.
Di malam terakhir liburanku, aku mendengar kamu bernyanyi. Tak begitu jelas lirik dan nadanya. Satu kalimat yang berhasil aku ingat ‘Hari ini ku dendangkan’. Ya, hanya satu kalimat itu yang benar-benar jelas terdengar. Tahukah kamu? Satu kalimat itu ku ingat-ingat selalu. Ku tanyakan pada teman-teman yang ahli di bidang musik. Dan akhirnya aku tahu, itu adalah lirik lagu dari grup band J-roks dengan judul Ceria. Sejak itu sering sekali aku menyanyikan lagu itu dan mengaku menjadi J-roks star meskipun hanya sesaat.
Di tahun berikutnya, Ayu mengajakku berlibur bersama lagi. Tentu saja aku mau. Selama setahun itu aku memang menanti-nanti liburan semester. Tepatnya menanti untuk bertemu denganmu.
Di tahun kedua itu, akhirnya aku kembali bertemu dengan kamu. Kali ini tak hanya sekedar kenal namamu, Very Dian Koswara. Lebih dari itu. Akhirnya kamu mengatakan kamu menyimpan rasa yang berbeda terhadapku.
“Gisha, bagaimana jawabanmu?” tanyamu setelah kamu mengungkapkan perasaan itu.
Aku diam cukup lama. Bingung. Meski di sudut hati yang lain ada rasa senang menyelinap. Aku ragu, mungkinkah kamu yang sudah duduk di kelas XI benar-benar menyukaiku yang kala itu masih duduk di kelas VIII. Apalagi aku tahu, kamu seorang aktivis dan juga seorang vokalis band sekolah mu. Laki-laki macam kamu, apakah mungkin tidak memiliki tambatan hati di sekolah.
“Gisha belum bisa jawab sekarang Kak” kataku polos.
“Ok, nanti malam aku tunggu jawabanmu” kamu berdiri hendak meninggalkanku.
“Enggak Kak. Besok aku kasih  jawabannya” aku mengulur waktu.
“Baiklah, besok ku tunggu.” Kemudian kamu berlalu begitu saja. Meninggalkanku dalam diam.
            Keesokan harinya, kamu menagih janjiku. Kembali melayangkan pertanyaan yang kamu tanyakan kemarin. Lagi-lagi aku diam, kali ini aku bingung bagaimana cara mengatakan apa yang ingin ku sampaikan. Kemudian aku hanya mengangguk pelan. Kamu bertanya sekali lagi memastikan, dan aku mengangguk lebih yakin. Kamu tersenyum, tak dapat ku baca itukah senyum bahagia kamu atau ada maksud  lain di balik senyummu itu. Kamu mengepalkan tanganmu, menyisakan jari kelingking yang tak ikut merunduk dengan jari yang lain.
            “Apa ini?” tanyaku bingung melihat tanganmu di depan wajahku.
            “Mana kelingkingmu?” tanyamu lagi.
“Untuk apa?” tanyaku masih tak mengerti.
“Ini tanda bahwa aku dan kamu ada dalam satu ikatan” katamu dengan senyum yang membuatku semakin membisu.
            Aku hanya tersenyum. Kemudian mengikuti apa yang kamu katakan. Jari kecil kita terpaut, menandakan bahwa kita berada dalam satu ikatan seperti katamu. Tak terkira bahagianya aku saat itu. Rasa bangga karena memilikimu.
Ayu, sepupu ku pun sangat senang ketika aku ceritakan tentang hubunganku denganmu. Lalu dia menceritakan banyak hal yang dia tahu tentang kamu. Menceritakan semua kebaikan-kebaikan kamu. Membuat senyumku semakin melebar mendengarnya.
            Hingga malam perpisahan itu tiba. Aku berharap akan bertemu denganmu sebelum aku pulang. Tapi ternyata tidak. Kamu tidak menemuiku. Hingga ku dengar dari kawanmu, kamu sakit hingga tak bisa menemuiku malam itu. Aku tak tahu kabar itu benar atau tidak, entah kenapa aku merasa ragu. Pasalnya kemarin sore kamu baik-baik saja. Bercanda gurau dengan teman-temanmu dan aku hanya menatapmu dari rumah disebrang jalan, sore itu.
            Pagi menjelang, kamu tak kunjung datang. Padahal kamu pun tahu akan lama sekali aku kembali ke tempat itu. Akan butuh waktu lama untuk kita bertemu kembali. Kecewa sudah tentu. Tapi saat itu aku mencoba untuk tetap berpikir positif, bahwa kamu sedang sakit. Akhirnya aku pulang dengan harapan yang  kosong.
            Satu hari, dua hari, ku tunggu kabarmu. Hingga satu minggu setelah kepulanganku, baru aku tahu nomor mu sudah tidak aktif. Sebulan, dua bulan masih ku tunggu. Ku coba tanya pada Ayu perihal itu. Kemudian Ayu memberi kabar bahwa kamu sedang dalam kondisi sulit. Mungkin saja handphone mu juga terjual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Baiklah, aku mengerti kondisi itu. Mengerti juga dengan kemungkinan yang disampaikan Ayu. Aku kembali menunggu, hingga satu bulan kemudian aku kembali bertanya pada Ayu.
Setelah Ayu menghubungi kawan mu, Ayu memberi kabar kepadaku,. Kabar yang membuatku menyesal telah menunggumu.
            “Gis, Very bilang kamu masih anak SMP. Nanti kalau kamu sudah SMA, baru dia akan serius sama kamu.” Itu perkataan Ayu saat itu.
            Aku  tak tahu harus berkata apa. Kecewa, atau bahagia karena terbebas dari ketidakpastian beberapa bulan lalu. Entah apa maksudmu melakukan  semua itu terhadapku. Aku tak pernah tahu.
Pertemuan tahun itu adalah benar-benar pertemuan terakhirku denganmu. Aku tak bisa lagi menemuimu. Karena  sejak saat itu keluargaku berselisih dengan keluarga Ayu. Membuat kami pun serasa ikut berselisih. Dan Ayu tak pernah lagi mengajakku berlibur bersamanya.
            Beberapa tahun berlalu begitu saja. Tanpa pernah ada sedikit pun kabar darimu. Bahkan sampai hari ini. Sampai aku berada di tingkat dua di salah satu universitas di Jakarta. Ingin aku mengatakannya padamu. Menagih janjimu jika aku berada di jenjang SMA, yang saat ini bahkan telah aku lewati jenjang itu.
Sebenarnya aku selalu menunggumu. Tak pernah ku ganti nomor telepon yang dulu pernah aku berikan padamu, berharap kamu akan menghubungi. Namun tetap tak ada.  Enam tahun yang penuh dengan  harapan semu. Harapan bahwa kita akan bertemu, agar aku segera mengetahui jawaban dari dari pertanyaanku sendiri, ‘Kapan kita putus?’.

Harapan Nenek untukmu Paman



Harapan Nenek untukmu Paman

28 Juli 2015
Wajahnya kian menua. Usia dan beban hidup seolah membuatnya tak memikirkan hal itu. Bukan, kali ini aku bukan menceritakan Ibu. Ibu masih terlalu cantik untuk aku katakan tua. Wanita yang ku maksud kali ini adalah Nenek.
            Nenek yang sendiri, tanpa kakek. Kakek meninggal tepat ketika usia ku tujuh bulan dalam kandungan. Ketika cucu pertamanya akan segera menemuinya.
Nenek pernah bercerita, dulu kakek begitu menginginkan seorang cucu. karena anak-anak tertua meninggal sebelum menikah, maka Ibu lah yang menjadi korbannya. Ibu harus menikah di usia muda. Padahal saat itu ibu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Anak Nenek dan Kakek sebenarnya ada Sembilan. Tapi Allah hanya memberikan kesempatan tiga orang untuk mendampingi Nenek dan Kakek hingga usia lanjut. Ya, Allah memanggil enam orang saudara Ibu.
Melihat kondisi Nenek sekarang, rasanya aku tak tega. Merasa malu dengan kelakuanku yang jauh dari teladan Nenek. Bagaimana tidak? Tubuh Nenek yang kecil, tak pernah diam dirumah. Kebun dan sawah tak pernah lupa ia kunjungi. Tiga hari dalam seminggu, nenek selalu mengikuti pengajian yang jaraknya lumayan jauh. Bahkan ada satu tempat yang sampai harus menyebrang desa. Malam harinya, Nenek mengajar ngaji anak-anak kecil. Bermakna sekali rasanya hidup Nenek. Berbeda dengan cucu pertama mu ini Nek, sama sekali tidak produktif bahkan diusia mudanya.
Saat ini Nenek tengah menangis. Dan aku tahu, hampir enam bulan ini tak pernah nenek lewati tanpa air mata. Di atas sajadah cokelat  itulah engkau menumpahkan air matamu, mengadukan segala beban hidupmu, mengirim beribu harap dan berjuta doa untuk anak-anak  mu. Terutama untuk Paman.
Akhir-akhir ini paman memang berulah. Aku tak tahu persis bagaimana permasalahannya. Yang aku tahu paman saat ini tenggah di lilit hutang. Bibi dan Ayah memberitahuku bahwa hutang nya mencapai 150 juta. Aku tercengang mendengar nominal itu. Uang sebanyak itu bisa membiayai kuliahku hingga lulus, batinku.
Bibi bilang, selama enam bulan ini banyak sekali orang-orang yang datang kerumah Nenek, menagih hutang paman. Coba bayangkan bagaimana perasaan Nenek? Tak tahu apa-apa, tiba-tiba orang-orang datang dan memaksa Nenek untuk melunasi hutang anak sulungnya itu.
Aku bukan ingin menjelek-jelekkan paman. Bukan pula tak kasihan dengan permasalahannya. Hanya tak habis pikir. Bukankah selama ini sebagian harta Nenek, sudah dihabiskan paman. Sawah dan kebun sudah Nenek jual untuk untuk menutupi hutang Paman yang telah lalu.  Lalu kenapa bisa Paman saat ini memiliki hutang sedahsyat itu? Itu sama saja membunuh Nenek secara perlahan. Tak kasihan kah paman pada Nenek? Ibu Paman sendiri?. Bagiku perbuatan Paman itu lebih dari tega, lebih dari keterlaluan. Nenek yang ringkih seperti itu, Paman timpah dengan beban yang Paman sendiri tak sanggup memikulnya.
Pantas saja ketika hari raya kemarin, aku merasa ada yang aneh di rumah Nenek. Aku melihat sepasang kaki terlentang di kamar gudang itu. Akhirnya aku tahu, itu adalah kaki Paman. Paman yang sedang bersembunyi dari kejaran mereka-mereka yang menagih hutang kepada Paman. Nenek memang selalu membela Paman. Selalu berharap Paman akan berubah. Paman bisa usaha dengan baik, dan menghidupi keluarga Paman dengan layak.
Idul fitri kemarin, keluarga Paman datang berkunjung. Istri dan anak-anak Paman datang silaturahmi ke rumah Nenek. Tak sengaja aku dengar, istri Paman mengatakan bahwa Paman tidak pulang selama lima bulan. Dan Riki, sepupu laki-laki ku yang tak lain adalah anak pertama Paman, sekarang sudah lulus SMP. Ku coba tanya dia mau melanjutkan sekolah kemana. Tapi dia mengatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan sekolahnya Akan ikut bekerja dengan saudara Ibunya di Jakarta. Namun tadi pagi aku baru tahu, Bibi menceritakan kalau dia sebenarnya  ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Air mata ku tertahan. Bisa dia mengatakan kepadaku tak ingin sekolah, padahal hatinya berteriak mengatakan sebaliknya. Aku tahu maksudnya, dia tak ingin  menyusahkan orang tuanya dan tak ingin dikasihani oleh siapapun.
Andai aku bisa bertanya kepada paman. Apa Paman tidak memikirkan mereka? Anak-anak paman kah yang harus menanggung bebannya?. Belum lagi anak perempuan Paman yang masih berusia enam tahun, tentu ia akan menanyakan keberadaan Ayahnya yang tak kunjung pulang ke rumah. Menyisakan bingung Ibunya yang tak tahu hendak menjawab apa.
Tahukah Paman, permasalahan Paman ini tak hanya berimbas pada keluarga Paman dan Nenek. Keluarga ku pun terkena imbasnya. Ibu dan Bapak tak jarang bertengkar karena permasalahan ini. Ibu yang selalu meminta Bapak membantu permasalahan Paman. Ikut menutup hutang Paman yang seabreg itu. Ya, Bapak sering keberatan. Karena menurut Bapak, bukan hanya sekarang Paman terlilit hutang. Berulang-ulang kali Bapak membatu melunasi hutang Paman, meski Bapak sendiri harus mendapatkan uang itu dengan meminjam. Bapak mungkin bosan dengan sikap Paman yang tak kunjung berubah. Malah semakin menjadi hingga akhirnya saat ini mencapai angka yang fantastis.
Entah apalagi yang akan Nenek jual untuk menutupi hutang Paman kali ini. Hanya ada kebun dan sawah berpetak kecil yang tersisa, dan tentu saja rumah tuanya. Rumahnya yang sudah lapuk dimakan usia itu tak mungkin Nenek jual, karena disanalah Nenek memulai hidup dengan Kakek dulu. Rumah itulah yang menjadi saksi bahwa Nenek membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang, dengan didikan yang baik. Dan rumah itu pula yang menjadi saksi kedurhakaan anak pada Ibu yang telah membesarkannya. Macam paman.  Bibi sudah menyerah. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Bapak rasanya sudah malas mendengar nama Paman. Hanya Nenek yang tetap bersikukuh dan terus berjuang membela Paman. Menahan agar orang-orang yang saat ini  berkumpul di rumahnya tak menyakiti dan melaporkan Paman ke pihak berwajib. Karena harapan nenek hanya satu, Paman akan berubah setelah kejadian ini.
Aku hanya berharap Nenek di berikan kesabaran yang lebih lebih dan lebih untuk menghadapi cobaan yang luar biasa di masa tuanya ini. Di berikan kesehatan lahir dan batinnya. Dan semoga aku sebagai cucu pertama Nenek diberikan kesempatan untuk membahagiakan Nenek. Tunggu aku Nek. Doakan cucu mu agar menjadi orang sukses yang kelak akan menutup semua luka di hati Nenek karena kelakuan Paman saat ini. Aamiin J

Rabu, 20 Agustus 2014

“Panggilan Hati tak terpungkiri”

“Imas Rismawati”
19 Maret 2013

“Daaaarrrrrr…..!!!!!!!!!!”
Meilani mengawali pertemuannya dengan kata-kata yang membuat Risya terkaget.
“Hayoo lho… ngelamun lagi kan….???? Kenapa sih,?? Kok akhir-akhir ini sering banget ngelamun gak jelas kaya gitu” kata Meilani sambil menyimpan tasnya.
“Ngga kok… siapa bilang melamun, orang aku lagi mikir” kata Risya dengan sedikit gugup.
“hah,,  Lagi mikir,?? Ehh Risya, emang aku anak kecil apa, bisa dikibulin kaya gitu. Dasar lho. ”
“Hehe,,, “ Risya tersenyum sendiri dengan wajah yang terlihat aneh.
“iiiigghhh senyum-senyum sendiri, jadi takut aku deket kamu, udah ah, ke kantin yukk.. belum sarapan nih..” kata Meilani sembari menarik tangan Risya.
Setibanya di kantin, ternyata Meilani masih penasaran, dia bingung dengan kelakuan sahabatnya akhir-akhir ini.
            “Ehh,  sya.. kamu kenapa sih..?? cerita dong…” pinta meilani mengawali pembicaraan.
            “ehm,,, cerita gak ya,,????” Risya menjawab dengan nada yang mengolok-olok pertanyaan sahabatnya itu.
            “Akh, kamu…!!!! Masa sama sahabat sendiri main rahasia-rahasiaan sih, kalo punya kebahagiaan bagi-bagi kenapa.” Kata Meilani yang mulai kesal dengan tingkah Risya yang so misterius.
            “Iya… iya.. gak usah cemberut gitu donk, haha” lagi-lagi Risya mengolok-olok sahabatnya.
            “iiiehh apaan sih, udah cepetan cerita…!!!!” pinta Meilani dengan emosi.
Risya pun menceritakan apa yang membuat dia selama ini menjadi aneh, ternyata Risya sedang menyukai seorang lelaki yang di temui nya ketika ia menghadiri seminar di suatu acara minggu lalu. Lelaki itu sekarang duduk di kelas XII, lebih tinggi setingkat di banding Risya sendiri, dia ber sekolah di sekolah kejuruan negeri di kota itu.
            Risya mendapatkan semua informasi dari kawannya Lina yang juga satu sekolah dengan lelaki itu. Katanya, Lelaki itu bernama Yudi. Bahkan dia pun mengaku bahwa dia juga sempat menyukai lelaki yang bernama Yudi itu, ketika ia pertama masuk sekolah. Semenjak itu, Risya sibuk mencari semua hal yang berhubungan dengan Yudi, dari mulai fb, twitter, email, hanya saja ia tak berani jika harus melalui via handphone.
Yudi sebenarnya adalah lelaki yang dulu pernah Risya sukai, Risya bertemu dan mengenal Yudi awalnya adalah ketika mereka berlatih tari di sebuah sanggar tari, Risya menyukai Yudi karena kesopanannya terhadap wanita, karena waktu itu ada perbuatan Yudi, yang secara tidak sengaja membuat Risya tertarik.  hanya saja waktu itu, Risya sama sekali tidak mengetahui informasi sedikit pun mrngenai lelaki itu.
Percakapan Risya dan Meilani terhenti, tatkala bel tanda pelajaran akan di mulai berbunyi.
            “Ehh,, bel nya bunyi tuh, tapi ceritanya nanti lanjutin yah, awas lhooo kalo ngga” kata Meilani dengan nada mengancam.
Risya hanya tersenyum seraya membulatkan jempol dan telujuknya,  yang menandakan ia setuju.

Ketika dalam perjalanan pulang, Meilani meminta Risya melanjutkan ceritanya.
“Sya, emang kak Yudi nya belum punya pacar yah,,??” Tanya Meilani dengan antusias.
“Hmmm…. udah,,!!!!!” Jawab Risya dengan nada datar.
“Hah udah…!!!!! Terus kamu gimana,,???” Tanya Meilani semakin ingin tahu.
“ya,, nggak gimana-gimana” jawab Risya dengan santai sembari mengotak-atik handphone yang di genggamnya.
“Risya Seriuuusss…!!!!!” Meilani mulai kesal dengan jawaban-jawaban Risya yang seenaknya.
“Ini juga udah serius Meilani handa Pratiwi” jawab risya, lagi-lagi dengan nada yang santai.
“Truss, kamu tetep suka gitu sama laki-laki yang udah punya pacar..???” Meilani bertanya dengan air muka yang serius.
“Ya gak ada masalah kan, kalo hanya sebatas suka,.” Jawab Risya dengan enteng.
“ ya tapi kan, tetep aja itu namanya kamu merusak hubungan orang lain, dan lagi pula nantinya kamu juga kan yang sakit hati.”Meilani mencoba memberi penjelasan kepada Risya.
Risya tiba-tiba memandang wajah sahabatnya itu dengan air muka yang berbeda, nampaknya ia tersinggung dengan perkataan sahabatnya itu.
“Merusak apanya maksud kamu,,?? Aku gak ngapa-ngapain kok, aku Cuma suka sama dia, aku juga gak berharap jadi sipa-siapanya dia. So, Aku gak bakalan ganggu dia sama pacarnya, lagi pula selama ini, aku melihat statusnya, tidak ada satupun kata-kata yang berkaitan dengan pacarnya, itu berarti dia gak terlalu suka kan sama pacarnya itu.” Risya menjawab penuh emosi.
Meilani yang mendengar jawaban Risya seperti itu, sedikit tersentak dan segera meminta maaf.
            “sya,, marah yah,,??? Kata-kkataku salah yah,,?? Maaf sya, aku gak bermaksud seperti itu, aku Cuma gak mau kamu salah langkah sya.” Meilani berkata penuh penyesalan.
            “udah lah,, aku juga ngerti kok maksud kamu,..!!!!”  Risya menjawab dengan ketus, dan seketika berlari membiarkan Meilani berjalan sendiri.
Meilani melanjutkan langkahnya dengan rasa penuh penyesalan.

Keesokan harinya, disekolah,,,,
 Meilai melihat Risya di pojok kelas, dan nampaknya ia sedang menangis…. Meilani segera menghampirinya, dan segera menyatakan penyesalannya atas kejadian kemarin.
Risya yang menangis, seketika memeluk sahabatnya yang sedang meminta maaf kepadanya, di pelukan Meilani tangisnya semakin menjadi.
            “Sya,, kamu kenapa,?? Kamu masih marah sama aku. Sya aku minta maaf sya,” Kata Meilani dengan perasaan khawatir.
Risya tak menjawab sepatah katapun, ia hanya mampu menggelengkan kepalanya.
            “Terus kenapa sya, cerita sama aku..” pinta meilani.
Risya melepaskan pelukannya, dan menceritakan semuanya.
            “La,, ternyata omongan kamu kemarin bener, aku yang akan sakit hati.” Jawab Risya denagn tersedu.
            “Lho.. kok bisa,,??? Kenapa emangnya,,???” Tanya meilani keheranan.
            “Semalem, seperti biasa, aku melihat  wall facebook kak Yudi, terus aku liat dia bikin status yang isinya “I Love U”, dan yang bikin aku tambah sedih, nama pacarnya tuh di tulis la, mereka coment-comentan dengan kata-kata yang……” Risya kembali menangis dan memeluk Meilani.
            “Lantas, kenapa kamu harus sedih sya,,?? Ingat kata-kata kamu kemarin,,?? Kamu tidak mengharapkan apa-apa dari perasaanmu ini. Suka ya tetep suka, dan rasa suka itu tidak berarti kamu harus menjadi seseorang yang berarti bagi dia kan,,??? Rasa suka kamu terhadap kak Yudi, itu adalah hal yang di inginkan oleh hati, kamu sendiri pun tak mampu memungkiri bahkan menentang hati mu itu. Jadi,, kalo kamu suka sama kak Yudi, ya biarkan saja, toh itu adalah panggilan dari hatimu kan, bukan kemauan mu..??? Sekarang jangan nangis lagi ya,,,”
            “Jadi aku masih boleh suka sama kak Yudi,,???” Tanya Risya sembari menatap wajah sahabatnya.
            “tentu saja boleh, kenapa tidak. Asalkan kamu ingat dengan janjimu, kamu tidak mengharapkan apapun dari perasaanmu ini. Dan ingat… tetap kendalikan perasaanmu, jangan sampai menggangu apalagi merusak hubungan kak yudi sama pacarnya” jawab meilani dengan bijak….
Risya mengucapkan Terimakasih dan kembali memeluk tubuh sahabatnya yang mungil itu.
            “Udah yu sedih-sedihannya, mending anter aku ke kantin.. Lapeerr niihh” ajak Meilani dengan gaya konyolnya.
Risya pun kembali tersenyum berusaha meyakinkan dan menegarkan hatinya…
 dan tangisnya pun berlalu terseret langkahnya bersama Meilani…….



BELAJAR Atau BERCANDA,,,????




Imas Rismawati
18 Maret 2013

“Hahahahaha…… hahahahh….. haha….”
Gelak tawa terdengar dikelas kami, semua bibir terlihat menyunggingkan senyuman..
Hanya dia, yah lelaki itu terlihat tak tertarik sedikit pun dengan candaan yang di layangkan oleh seorang siswa di kursi belakang.
Berkali-kali kami menertawakan hal yang  tak jelas, namun mampu mengundang tawa, berkali-kali pula aku melihat dia sibuk sendiri dengan bukunya. Hmm… aku pikir, dia lelaki paling membosankan di kelas ini, sama sekali tidak memiliki rasa humor. Bahkan aku sempat berfikir, apa mungkin yah bibirnya di ciptakan bukan untuk tertawa, bahkan untuk sekedartersenyum.
Pagi itu,,
Ketika pelajaran Matematika, rasanya aku tak kuasa melihat angka-angka yang sejak sejam yang lalu menari-nari di atas kepusinganku.
Tiba-tiba, Widi teman sebangku ku menyarankan agar aku mengusik kenyamanan Riki ‘Lelaki tanpa tawa’ yang sejak tadi serius memperhatikan penjelasan Pak Deri di depan kelas.
Mendengar saran itu,rasanya  ide-ide ku bermunculan. Otakku berfikir lebih cepat jika berhubungn dengan yang jail-jail. Huhhh emang aneh ni otak.
Aku merobek selembar kertas, kutuliskan sesuatu di atasnya, lalu ku remas kertas itu dan Peeesssstttt… ku lempar kertas itu kearah Riki. Aku dan Widi tertawa, namun tawa kami terhenti, manakala Riki tak sedikit pun menghiraukan kertas itu, bahkan untuk sekedar membacanya saja pun tidak.
Ku coba lempar kertas ke dua, Ppeesssttttt…….. bruugg,,!!!!. Tepat sasaran. Namun, tak ada beda dengan lemparan yang pertama. Bukannya bosan, aku malah semakin penasaran, kusiapkan kertas ketiga, kali ini kertasku lebih besar, agar nantinya bisa terasa kalo kena kepalanya.
Ku remas senjataku yang ketiga ini, ku tiup-tiup kertasnya, berharap bisa pas mengenai sasaran. Dan peeessssttt……. Brugg….!!!!!!  
Yeahhhh,,,, tepat sasaran,,,,!!!!!
Tapi.. tapi lagi-lagi Riki tak meresponnya,..!!!
Huuuhh…. Aku dan Widi menyerah….
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Riki perlahan membungkuk dan mengambil kertas-kertas yang tadi aku lemparkan. Ku Lihat, Dia memang tak membacanya, tapi malah memasukkannya ke dalam tas. Aku dan Widi saling berpandangan, perasaan aneh dan bingung tersirat di wajah kami berdua.
Bel,,, tanda  istirahat berbunyi…
Aku segera berlari keluar, karena aku sudah tak sanggup menahan hasrat ingin pipisku…
 “Huuft,, akhirnya beres juga”  kataku ketika keluar dari kamar mandi.
Mataku tersentak, ketika menemukan Riki sedang duduk di ujung jalan menuju kamar mandi, hatiku tiba-tiba saja terasa dag dig dug,,,!!!! Aku takut Riki marah dengan perbuatan ku di kelas tadi. Aku tak bisa menghindar, karena satu-satunya jalan ke kelas, adlah aku harus melewati ujung jalan itu.
Aku menarik nafas,,, memberanikan diri…!!! Perlahan langkahku kian dekat dengan sosok Lelaki tanpa tawa itu,, dan ketika aku di hadapannya,,,,, dia sama sekali tak mengacuhkan ku, hal yang aku takutkan ternyanyata tak terjadi.
“Huufffttt… aku selamat…” kata ku berbisik.
Setelah beberapa langkah dari bangku itu, terdengar seseorang memanggilku
“Rara…!!!!!!”
Aku celingukan mencari suara itu, dan ternyata,, OMG… Riki memanggilku. Aku mendadak gugup, jantungku memompa darah dengan kecepatan di atas 80 km/jam.
Riki menghampiriku,… dan kini berada tepet di hadapanku.
“kamu yang Melempar 3 kertas ini kan..????”  Tanya Riki dengan wajah marah sembari menggenggam 3 kertas.
Aku bingung,.. otaku tak mampu bekerja dengan cepat. saat ini rasanya aku sedang berada di pengadilan, dan menjadi terdakwa.
Aku beranikan diri menjawab sekenanya.
“Memang aku yang melemparnya,,  Lantas Kenapa,,,???” kataku dengan nada so Galak.
Tau apa yang terjadi……??????#
Tiba-tiba saja air mukanya berubah,. Riki yang tadi terlihat begitu marah, kini malah tersenyum seraya berkata
“Lain kali kalau mau bercanda, jangan seprti itu yah”
Hiii,,, rasanya baru kali ini aku melihat laki-laki ini tersenyum,, senyumnya begitu lepas,, sembari menampakkan wajah yang bersahabat.!!! Seketika air muka ku pun berubah, dengan tingkah seperti orang bodoh, aku meminta maaf kepada Riki…
“Hehe… maaf yah, aku Cuma iseng kok..!!!! maaf yah kalo ganggu”
“Iya. Gak apa-apa kok, ini aku kembaliin kertas kamu”  Katanya sambil menarik tangan ku dan memberikan kertas-kertas yang tadi ku lempar.
Riki mengajakku duduk di tempat ia tadi membaca, kami bercakap-cakap mengenai banyak hal, itu adalah percakapan pertamaku dengan lelaki yang selalu ku sebut  ‘Lelaki tanpa tawa” itu.
Dari percakapan itu, Riki mengajarkanku, Bahwa ketika belajar di dalam kelas, maka kita harus serius dalam memperhatikan penjelasan-penjeasan yang di berikan Guru. Dan kini aku mengerti mengapa selama ini Dia tak pernah tertawa di dalam kelas, katanya sih.. Dia takut kalau tertawa, itu akan membuat guru tersinggung. Dan dia tidak menyukai itu.
Tapi aku katakan padanya, kita sekolah, selain untuk menuntut ilmu, tapi juga untuk belajar bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Dalam belajar, kita memang harus serius, tapi serius bukan berarti tidak pernah tertawa, dan tertawa bukan berarti kita tidak menghargai guru. Semua moment kita di sekolah ini, tidak akan pernah terulang di masa depan, jika saat ini tidak dilalui dengan senyuman dan tawa., maka apa yang akan kita kenang di masa depan,,??? Apakah hanya duduk dan memperhatikan papan bor,,???
Aku dan Riki sama-sama mendapatkan pelajaran dari pembicaraan singkat itu. Aku belajar bahwa dalam belajar, tak selalu harus bercanda, ada kalanya kita harus serius memperhatikan pelajaran. Dan Riki juga dapat mengambil kesimpulan, bahwa dalam belajar, tidak selamanya harus serius, tawa dan canda pun penting untuk merefresh otak yang selalu di tekan untuk belajar.




Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com