Imas Rismawati
18 Maret 2013
Gelak tawa
terdengar dikelas kami, semua bibir terlihat menyunggingkan senyuman..
Hanya dia,
yah lelaki itu terlihat tak tertarik sedikit pun dengan candaan yang di
layangkan oleh seorang siswa di kursi belakang.
Berkali-kali
kami menertawakan hal yang tak jelas,
namun mampu mengundang tawa, berkali-kali pula aku melihat dia sibuk sendiri
dengan bukunya. Hmm… aku pikir, dia lelaki paling membosankan di kelas ini,
sama sekali tidak memiliki rasa humor. Bahkan aku sempat berfikir, apa mungkin
yah bibirnya di ciptakan bukan untuk tertawa, bahkan untuk sekedartersenyum.
Pagi itu,,
Ketika
pelajaran Matematika, rasanya aku tak kuasa melihat angka-angka yang sejak
sejam yang lalu menari-nari di atas kepusinganku.
Tiba-tiba,
Widi teman sebangku ku menyarankan agar aku mengusik kenyamanan Riki ‘Lelaki
tanpa tawa’ yang sejak tadi serius memperhatikan penjelasan Pak Deri di depan
kelas.
Mendengar
saran itu,rasanya ide-ide ku
bermunculan. Otakku berfikir lebih cepat jika berhubungn dengan yang jail-jail.
Huhhh emang aneh ni otak.
Aku merobek
selembar kertas, kutuliskan sesuatu di atasnya, lalu ku remas kertas itu dan
Peeesssstttt… ku lempar kertas itu kearah Riki. Aku dan Widi tertawa, namun
tawa kami terhenti, manakala Riki tak sedikit pun menghiraukan kertas itu,
bahkan untuk sekedar membacanya saja pun tidak.
Ku coba
lempar kertas ke dua, Ppeesssttttt…….. bruugg,,!!!!. Tepat sasaran. Namun, tak
ada beda dengan lemparan yang pertama. Bukannya bosan, aku malah semakin
penasaran, kusiapkan kertas ketiga, kali ini kertasku lebih besar, agar
nantinya bisa terasa kalo kena kepalanya.
Ku remas
senjataku yang ketiga ini, ku tiup-tiup kertasnya, berharap bisa pas mengenai
sasaran. Dan peeessssttt……. Brugg….!!!!!!
Yeahhhh,,,,
tepat sasaran,,,,!!!!!
Tapi.. tapi
lagi-lagi Riki tak meresponnya,..!!!
Huuuhh….
Aku dan Widi menyerah….
Setelah
beberapa saat, tiba-tiba Riki perlahan membungkuk dan mengambil kertas-kertas
yang tadi aku lemparkan. Ku Lihat, Dia memang tak membacanya, tapi malah
memasukkannya ke dalam tas. Aku dan Widi saling berpandangan, perasaan aneh dan
bingung tersirat di wajah kami berdua.
Bel,,,
tanda istirahat berbunyi…
Aku segera
berlari keluar, karena aku sudah tak sanggup menahan hasrat ingin pipisku…
“Huuft,, akhirnya beres juga”
kataku ketika keluar dari kamar mandi.
Mataku
tersentak, ketika menemukan Riki sedang duduk di ujung jalan menuju kamar
mandi, hatiku tiba-tiba saja terasa dag dig dug,,,!!!! Aku takut Riki marah
dengan perbuatan ku di kelas tadi. Aku tak bisa menghindar, karena satu-satunya
jalan ke kelas, adlah aku harus melewati ujung jalan itu.
Aku menarik
nafas,,, memberanikan diri…!!! Perlahan langkahku kian dekat dengan sosok
Lelaki tanpa tawa itu,, dan ketika aku di hadapannya,,,,, dia sama sekali tak
mengacuhkan ku, hal yang aku takutkan ternyanyata tak terjadi.
“Huufffttt… aku selamat…”
kata ku berbisik.
Setelah
beberapa langkah dari bangku itu, terdengar seseorang memanggilku
“Rara…!!!!!!”
Aku
celingukan mencari suara itu, dan ternyata,, OMG… Riki memanggilku. Aku
mendadak gugup, jantungku memompa darah dengan kecepatan di atas 80 km/jam.
Riki
menghampiriku,… dan kini berada tepet di hadapanku.
“kamu yang Melempar 3
kertas ini kan..????” Tanya Riki dengan wajah marah sembari menggenggam
3 kertas.
Aku
bingung,.. otaku tak mampu bekerja dengan cepat. saat ini rasanya aku sedang
berada di pengadilan, dan menjadi terdakwa.
Aku
beranikan diri menjawab sekenanya.
“Memang aku yang
melemparnya,, Lantas Kenapa,,,???”
kataku dengan nada so Galak.
Tau apa
yang terjadi……??????#
Tiba-tiba
saja air mukanya berubah,. Riki yang tadi terlihat begitu marah, kini malah
tersenyum seraya berkata
“Lain kali kalau mau bercanda,
jangan seprti itu yah”
Hiii,,,
rasanya baru kali ini aku melihat laki-laki ini tersenyum,, senyumnya begitu
lepas,, sembari menampakkan wajah yang bersahabat.!!! Seketika air muka ku pun
berubah, dengan tingkah seperti orang bodoh, aku meminta maaf kepada Riki…
“Hehe… maaf yah, aku
Cuma iseng kok..!!!! maaf yah kalo ganggu”
“Iya. Gak apa-apa kok,
ini aku kembaliin kertas kamu” Katanya sambil menarik tangan ku dan
memberikan kertas-kertas yang tadi ku lempar.
Riki
mengajakku duduk di tempat ia tadi membaca, kami bercakap-cakap mengenai banyak
hal, itu adalah percakapan pertamaku dengan lelaki yang selalu ku sebut ‘Lelaki tanpa tawa” itu.
Dari
percakapan itu, Riki mengajarkanku, Bahwa ketika belajar di dalam kelas, maka
kita harus serius dalam memperhatikan penjelasan-penjeasan yang di berikan
Guru. Dan kini aku mengerti mengapa selama ini Dia tak pernah tertawa di dalam
kelas, katanya sih.. Dia takut kalau tertawa, itu akan membuat guru tersinggung.
Dan dia tidak menyukai itu.
Tapi aku
katakan padanya, kita sekolah, selain untuk menuntut ilmu, tapi juga untuk
belajar bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Dalam belajar, kita memang
harus serius, tapi serius bukan berarti tidak pernah tertawa, dan tertawa bukan
berarti kita tidak menghargai guru. Semua moment kita di sekolah ini, tidak
akan pernah terulang di masa depan, jika saat ini tidak dilalui dengan senyuman
dan tawa., maka apa yang akan kita kenang di masa depan,,??? Apakah hanya duduk
dan memperhatikan papan bor,,???
Aku dan
Riki sama-sama mendapatkan pelajaran dari pembicaraan singkat itu. Aku belajar
bahwa dalam belajar, tak selalu harus bercanda, ada kalanya kita harus serius
memperhatikan pelajaran. Dan Riki juga dapat mengambil kesimpulan, bahwa dalam
belajar, tidak selamanya harus serius, tawa dan canda pun penting untuk
merefresh otak yang selalu di tekan untuk belajar.

0 komentar:
Posting Komentar