Rabu, 20 Agustus 2014

BELAJAR Atau BERCANDA,,,????




Imas Rismawati
18 Maret 2013

“Hahahahaha…… hahahahh….. haha….”
Gelak tawa terdengar dikelas kami, semua bibir terlihat menyunggingkan senyuman..
Hanya dia, yah lelaki itu terlihat tak tertarik sedikit pun dengan candaan yang di layangkan oleh seorang siswa di kursi belakang.
Berkali-kali kami menertawakan hal yang  tak jelas, namun mampu mengundang tawa, berkali-kali pula aku melihat dia sibuk sendiri dengan bukunya. Hmm… aku pikir, dia lelaki paling membosankan di kelas ini, sama sekali tidak memiliki rasa humor. Bahkan aku sempat berfikir, apa mungkin yah bibirnya di ciptakan bukan untuk tertawa, bahkan untuk sekedartersenyum.
Pagi itu,,
Ketika pelajaran Matematika, rasanya aku tak kuasa melihat angka-angka yang sejak sejam yang lalu menari-nari di atas kepusinganku.
Tiba-tiba, Widi teman sebangku ku menyarankan agar aku mengusik kenyamanan Riki ‘Lelaki tanpa tawa’ yang sejak tadi serius memperhatikan penjelasan Pak Deri di depan kelas.
Mendengar saran itu,rasanya  ide-ide ku bermunculan. Otakku berfikir lebih cepat jika berhubungn dengan yang jail-jail. Huhhh emang aneh ni otak.
Aku merobek selembar kertas, kutuliskan sesuatu di atasnya, lalu ku remas kertas itu dan Peeesssstttt… ku lempar kertas itu kearah Riki. Aku dan Widi tertawa, namun tawa kami terhenti, manakala Riki tak sedikit pun menghiraukan kertas itu, bahkan untuk sekedar membacanya saja pun tidak.
Ku coba lempar kertas ke dua, Ppeesssttttt…….. bruugg,,!!!!. Tepat sasaran. Namun, tak ada beda dengan lemparan yang pertama. Bukannya bosan, aku malah semakin penasaran, kusiapkan kertas ketiga, kali ini kertasku lebih besar, agar nantinya bisa terasa kalo kena kepalanya.
Ku remas senjataku yang ketiga ini, ku tiup-tiup kertasnya, berharap bisa pas mengenai sasaran. Dan peeessssttt……. Brugg….!!!!!!  
Yeahhhh,,,, tepat sasaran,,,,!!!!!
Tapi.. tapi lagi-lagi Riki tak meresponnya,..!!!
Huuuhh…. Aku dan Widi menyerah….
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Riki perlahan membungkuk dan mengambil kertas-kertas yang tadi aku lemparkan. Ku Lihat, Dia memang tak membacanya, tapi malah memasukkannya ke dalam tas. Aku dan Widi saling berpandangan, perasaan aneh dan bingung tersirat di wajah kami berdua.
Bel,,, tanda  istirahat berbunyi…
Aku segera berlari keluar, karena aku sudah tak sanggup menahan hasrat ingin pipisku…
 “Huuft,, akhirnya beres juga”  kataku ketika keluar dari kamar mandi.
Mataku tersentak, ketika menemukan Riki sedang duduk di ujung jalan menuju kamar mandi, hatiku tiba-tiba saja terasa dag dig dug,,,!!!! Aku takut Riki marah dengan perbuatan ku di kelas tadi. Aku tak bisa menghindar, karena satu-satunya jalan ke kelas, adlah aku harus melewati ujung jalan itu.
Aku menarik nafas,,, memberanikan diri…!!! Perlahan langkahku kian dekat dengan sosok Lelaki tanpa tawa itu,, dan ketika aku di hadapannya,,,,, dia sama sekali tak mengacuhkan ku, hal yang aku takutkan ternyanyata tak terjadi.
“Huufffttt… aku selamat…” kata ku berbisik.
Setelah beberapa langkah dari bangku itu, terdengar seseorang memanggilku
“Rara…!!!!!!”
Aku celingukan mencari suara itu, dan ternyata,, OMG… Riki memanggilku. Aku mendadak gugup, jantungku memompa darah dengan kecepatan di atas 80 km/jam.
Riki menghampiriku,… dan kini berada tepet di hadapanku.
“kamu yang Melempar 3 kertas ini kan..????”  Tanya Riki dengan wajah marah sembari menggenggam 3 kertas.
Aku bingung,.. otaku tak mampu bekerja dengan cepat. saat ini rasanya aku sedang berada di pengadilan, dan menjadi terdakwa.
Aku beranikan diri menjawab sekenanya.
“Memang aku yang melemparnya,,  Lantas Kenapa,,,???” kataku dengan nada so Galak.
Tau apa yang terjadi……??????#
Tiba-tiba saja air mukanya berubah,. Riki yang tadi terlihat begitu marah, kini malah tersenyum seraya berkata
“Lain kali kalau mau bercanda, jangan seprti itu yah”
Hiii,,, rasanya baru kali ini aku melihat laki-laki ini tersenyum,, senyumnya begitu lepas,, sembari menampakkan wajah yang bersahabat.!!! Seketika air muka ku pun berubah, dengan tingkah seperti orang bodoh, aku meminta maaf kepada Riki…
“Hehe… maaf yah, aku Cuma iseng kok..!!!! maaf yah kalo ganggu”
“Iya. Gak apa-apa kok, ini aku kembaliin kertas kamu”  Katanya sambil menarik tangan ku dan memberikan kertas-kertas yang tadi ku lempar.
Riki mengajakku duduk di tempat ia tadi membaca, kami bercakap-cakap mengenai banyak hal, itu adalah percakapan pertamaku dengan lelaki yang selalu ku sebut  ‘Lelaki tanpa tawa” itu.
Dari percakapan itu, Riki mengajarkanku, Bahwa ketika belajar di dalam kelas, maka kita harus serius dalam memperhatikan penjelasan-penjeasan yang di berikan Guru. Dan kini aku mengerti mengapa selama ini Dia tak pernah tertawa di dalam kelas, katanya sih.. Dia takut kalau tertawa, itu akan membuat guru tersinggung. Dan dia tidak menyukai itu.
Tapi aku katakan padanya, kita sekolah, selain untuk menuntut ilmu, tapi juga untuk belajar bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Dalam belajar, kita memang harus serius, tapi serius bukan berarti tidak pernah tertawa, dan tertawa bukan berarti kita tidak menghargai guru. Semua moment kita di sekolah ini, tidak akan pernah terulang di masa depan, jika saat ini tidak dilalui dengan senyuman dan tawa., maka apa yang akan kita kenang di masa depan,,??? Apakah hanya duduk dan memperhatikan papan bor,,???
Aku dan Riki sama-sama mendapatkan pelajaran dari pembicaraan singkat itu. Aku belajar bahwa dalam belajar, tak selalu harus bercanda, ada kalanya kita harus serius memperhatikan pelajaran. Dan Riki juga dapat mengambil kesimpulan, bahwa dalam belajar, tidak selamanya harus serius, tawa dan canda pun penting untuk merefresh otak yang selalu di tekan untuk belajar.




0 komentar:

Posting Komentar

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com