Rabu, 12 Agustus 2015

Oh, Rangga?





Siang ini begitu terik, nampaknya matahari sedang membalaskan dendamnya hari ini karena kemarin ia tak diberi kesempatan untuk memamerkan sinarnya. Tertutup awan pekat seharian penuh. Hari ini pun hari keberuntungan untuk kelasku, pasalnya Dosen tauhid tak berminat masuk, entah kemana tanpa kabar. Membiarkan kami menunggu 30 menit lamanya lalu kemudian memutuskan membubarkan diri membiarkan kelas tak berpenghuni. Berhamburan dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang langsung ke kantin, ada juga yang merencanakan mengerjakan tugas untuk sabtu besok, dan beberapa lagi ada yang pergi ke gedung student center untuk mengikuti audisi biology voice yang memang pendaftarannya dimulai hari ini. Aku pun seharusnya ikut kesana. Mengikuti audisi itu. Sedikit aneh memang orang sepertiku mengikuti grup yang menjadikan suara sebagai modal utama. Tentu saja bukan karena aku merasa suaraku merdu atau bagaimana, hanya saja aku ingin bisa bernyanyi. Untuk apa? Itu rahasia, ada misi yang aku rencanakan untuk nanti dimasa depan.
Tapi kali ini aku tak bisa mengikutinya, ada hal yang lebih penting. Aku harus ke kantor pos.
Menuruni tangga dengan canda tawa yang terdengar dari mereka yang berlalu lalang. ada yang naik dan ada yang turun sepertiku.
Sampai dilantai satu, tepat dibawah tangga kulihat ada meja kecil dengan hiasan kertas karton dan origami yang berwarna warni. Tampak ramai dengan orang-orang yang mengerumuninya. Aku penasaran, karena seingatku tadi pagi tak ada kerumunan macam ini. Kusempatkan melihat dan menghampiri kerumunan itu. Baru selangkah mendekat, terdengar teriakan-teriakan dari mereka yang memintaku untuk mendekat dan membaca selebaran penuh warna.


“Sini teh, ayo gabung sama kita. Banyak lho teh jenis perlombaannya” kata salah satu perempuan yang antusias menyuruhku mendekat sambil menunjuk-nunjukkan selebaran.
Aku sedikit bingung, belum sempat aku membaca selebaran yang ia berikan, lagi-lagi perempuan tadi dengan semangat menjelaskan semuanya. Aku mengangguk-anggukkan mencoba mencerna apa yang dikatakannya. Dan akhirnya aku tahu ternyata ini adalah stand pendaftaran berbagai perlombaan yang diadakan Himatika. Himatika adalah semacam organisasi atau himpunan mahasiswa jurusan matematika. Kalau dijurusanku Himbiosai namanya, akromnim dari Himpunan Mahasiswa Biologi Saintek.
Kembali ke selebaran yang ku baca, di dalamnya tertulis berbagai lomba seperti lomba tulis cerpen, puisi, fotografi, edit video, dan kaligrafi. Sebenarnya aku sempat melihat pengumuman ini sebelumnya di mading depan kelas, tapi tak begitu ku perhatikan. Hanya membaca selintas, dan berlalu tak membekas.
Aku bertanya mengenai salah saatu lomaba, lomba tulis cerpen. Karena dari dulu aku tak cukup berani mengikutsertakan cerita-cerita yang pernah kutulis. Ku tanyakan bagaimana persyaratan dan ketentuannya. Kemudian memberiku selembar kertas dan aku dapat membaca semua informasi yang ku tanyakan tadi.
Kupastikan kali ini aku harus ikut, entah itu dengan karya yang jelek atau bagus apalagi masalah menang atau kalah, ah itu sama sekali tak aku pikirkan. Aku berani menulis saja, sudah merupakan kebanggaan tersendiri.
Ku tuliskan namaku di lembar daftar para peserta, cukup banyak ternyata yang berminat. Meskipun yang paling banyak pendaftarnya adalah lomba tulis puisi. Dan hei, Ada yang menarik. Tepat satu baris diatasku tertulis pendaftar dengan nama Rangga, dia mengikuti dua lomba sekaligus, tulis cerpen dan puisi. Tapi bukan perkara itu yang  membuatku tertarik. Namanya yang membuatku tersenyum tipis saat membacanya. Rangga. Nama itu mengingatkanku pada tokoh utama dalam film Ada Apa Dengan Cinta atau yang lebih dikenal dengan AADC yang diperankan oleh Nicholas Saputra. Seorang pujangga yang dingin dengan pengetahuan sastra yang luar biasa. Dan dialah yang memenangkan lomba puisi disekolahnya dan mengalahkan Cinta si anak mading yang terkenal pandai menciptakan puisi-puisi indah yang berhasil diperankan dengan baik oleh Dian Sastro Wardoyo. Wah sepertinya aku hapal sekali alur cerita dari Film tahun 2000-an itu ya?. Jelas!, selain karena aku memang suka filmnya, baru kemarin sore aku memutar kembali film lama itu di laptop. Jadi wajar saja alur dan perwatakan dari tokoh yang diperankan masih lekat di ingatanku. Film itulah yang secara perlahan membuatku menyukai sastra dan menulis. Nah, yang menjadi buah pikiranku adalah, akankah Rangga yang namanya tertulis diatas namaku itu memiliki kemampuan yang sama dengan tokoh Rangga dalam AADC? Lantas dia jugakah yang akan memenangkan perlombaan ini? Entahlah. Aku jadi penasaran dengan pertanyaanku sendiri. Akan ku tunggu karyanya, puisi dan cerita pendeknya untuk menjawab semua tanya di benakku.
Dan oh, baru kusadar, aku  harus segera pergi sebelum kantor pos di wilyah Ujung Berung sana tutup. Setelah membereskan pendaftaran berikut biaya administrasinya, aku minta izin untuk meninggalkan tempat itu. Aku kembali mengganggukkan kepala, namun kali ini pertanda aku pamit dan terdengar beberapa orang diantara mengucapkan terimakasih dengan iringan senyum yang merekah. Aku bergegas pergi dan mengingatkan diri agar tak lupa dengan misiku untuk menunggu karya seorang Rangga yang berada dalam dunia nyata.

Minggu, 09 Agustus 2015

Bayangan Hitam di Dinding Putih



19 Juni 2015
02 Ramadhan 1436 H

Pandanganku mengikuti banyanganmu, iya hanya bayangan hitammu yang tercetak di dinding putih itu. Tak pernah aku lepas pandanganku dari bayangan hitam itu. Tak pernah lepas, hingga akhirnya aku mendengar suaramu. Suaramu yang kemudian menghanyutkan aku dan beberapa pasang mata yang lain. Menyejukkan, membawa ku dan beberapa pasang mata berada dalam kekhusukan. Ku puji suaramu dalam hati, ku kagumi apa yang kamu lakukan malam ini. Aku tersenyum ketika kamu telah selesai mengucapkan salam. Lantas kemudian kembali berdiri untuk memulai rakaat yang baru. Aku tak dapat melihat wajahmu. Jangankan wajah, punggungmu pun tidak. Hijab itu terlalu tinggi, tak memungkin kan aku melihat kamu sang pemilik bayangan hitam di dinding putih. Hanya suaramu lah yang membelaiku. Membelai hatiku dengan lantunan kalam illahi yang kau ucapkan, menerbangkanku dengan sayap-sayap lembut suaramu.
            Sungguh, Ramadhan dimalam ketiga ini aku beruntung dapat melakukan kewajiban seorang hamba bersamamu, dengan waktu dan tempat yang sama meski kamu tak benar-benar tertangkap oleh lensa mataku. Kamu sosok baru yang aku kagumi dalam diam. Meski hanya menatap bayangan, dan tak bertatap dengan sang pemilik suara lembut pelantun kalam illahi, itu bukan masalah bagiku. Bukan alasan untuk tidak mengagumimu meski hanya dalam diam. Biar Allah yang tahu bagaimana ucap pujianku terhadapmu, bagaimana bahagianya aku menatap bayangmu, dan biarkan hanya Allah yang tahu apa yang kurasa ketika mata ini terpejam saat kamu melantunkan kalamNya.
            Terimakasih untuk keindahan dan kebahagiaan malam ini. Semoga di malam esok aku masih melihat bayanganmu di dinding putih yang sama dan mendengar lantunan kalam Allah dengan suara lembut yang sama. Ku nanti esok malam. J
#gadisbermukenaputih J
-bersambung-

Bayangan Hitam di Dinding Putih 2

22 Juni 2015
05 Ramadhan 1436 H
Lagi. Aku menikmati alunan indah suaramu. Terdiam. Beberapa kali mata terpejam untuk kemudian benar-benar tenggelam dalam kalam Allah yang kamu lantunkan. Malam ini aku tak hanya melihat bayang hitam mu di tembok putih itu. Kali ini aku melihat ragamu, meski tak bertatap, meski hanya selintas. Koko hitam yang kamu kenakan lengkap dengan peci diatas kepala sempurna membuatmu terlihat begitu berbeda dari yang lain.
Entah apa yang terjadi padaku, entah angin mana yang mengubah arah hatiku. Kenapa aku begitu mengagumimu, padahal sebelumnya sama sekali tidak. Tak terpikir akan mengenalmu bahkan sampai menaruh kagum berlebih terhadapmu.
Aku sadar, ada yang salah dengan semua ini. Aku yang berusaha melongokkan kepala ke balik hijab hanya untuk memastikan yang kudengar adalah memang suaramu. Meski akhirnya sia-sia. Belum sempat aku menengok, rasa malu telah datang menghampiri lebih dulu. Aku yang selalu merapikan posisi mukena yang tak berantakan sebenarnya. Mewanti wanti kamu kembali melintas di pintu itu. Padahal, kalaupun benar kamu melintas, sebenarnya kamu tak akan sedikitpun menatap kearahku. Bahkan mungkin kamu tak pernah menyadari kehadiranku.

-bersambung-

Kapan Kita Putus?



Kapan Kita Putus?
30 Juli 2015

Tujuh tahun lalu aku mulai mengenalmu. Menyimpan sejuta kagum terhadapmu. Kamu membuat liburanku kala itu terasa semakin lengkap.
Dulu aku memang sering di ajak sepupuku berlibur ke rumah ayahnya. Karena semenjak ayah dan ibunya bercerai, ia terpisah jarak yang cukup jauh dari ayahnya. Karena itulah ketika musim liburan tiba, ia selalu ingin menghabiskannya bersama ayah dan keluarganya, di daerah pesisir sana. Aku pun sering di ajaknya. Katanya aku bisa menemaninya di perjalanan. Aku memang sepupu yang baik. Meski aku masih duduk di bangku SMP saat itu, tapi Ayu ~nama sepupuku~ sering mengatakan aku adalah teman curhat yang baik. Tentu saja. Bagaimana tidak, aku lebih banyak diam dan menjadi pendengar yang baik ketika ia bercerita. Tak banyak berkomentar. Mungkin seperti itulah yang ia anggap baik.
Saat itu aku memang hanya sekedar kenal. Meski sebenarnya secara tak sadar ada perhatian lebih yang ku taruh padamu. Ada pandangan dengan intensitas lebih terhadap sosokmu. Dan aku tahu kamu pun demikian. Kamu sering sekali terlihat gugup ketika di depanku. Masih ingat dulu, karena begitu gugupnya kamu menjatuhkan benda disamping mu. Lalu kemudian tersenyum malu kepadaku.
Saat itu tak banyak yang aku tahu tentang mu. Dan ku rasa begitu pun sebaliknya. Karena pada sasat itu, memang sahabatmu lah yang lebih akrab ~sok akrab tepatnya~ denganku.
Di malam terakhir liburanku, aku mendengar kamu bernyanyi. Tak begitu jelas lirik dan nadanya. Satu kalimat yang berhasil aku ingat ‘Hari ini ku dendangkan’. Ya, hanya satu kalimat itu yang benar-benar jelas terdengar. Tahukah kamu? Satu kalimat itu ku ingat-ingat selalu. Ku tanyakan pada teman-teman yang ahli di bidang musik. Dan akhirnya aku tahu, itu adalah lirik lagu dari grup band J-roks dengan judul Ceria. Sejak itu sering sekali aku menyanyikan lagu itu dan mengaku menjadi J-roks star meskipun hanya sesaat.
Di tahun berikutnya, Ayu mengajakku berlibur bersama lagi. Tentu saja aku mau. Selama setahun itu aku memang menanti-nanti liburan semester. Tepatnya menanti untuk bertemu denganmu.
Di tahun kedua itu, akhirnya aku kembali bertemu dengan kamu. Kali ini tak hanya sekedar kenal namamu, Very Dian Koswara. Lebih dari itu. Akhirnya kamu mengatakan kamu menyimpan rasa yang berbeda terhadapku.
“Gisha, bagaimana jawabanmu?” tanyamu setelah kamu mengungkapkan perasaan itu.
Aku diam cukup lama. Bingung. Meski di sudut hati yang lain ada rasa senang menyelinap. Aku ragu, mungkinkah kamu yang sudah duduk di kelas XI benar-benar menyukaiku yang kala itu masih duduk di kelas VIII. Apalagi aku tahu, kamu seorang aktivis dan juga seorang vokalis band sekolah mu. Laki-laki macam kamu, apakah mungkin tidak memiliki tambatan hati di sekolah.
“Gisha belum bisa jawab sekarang Kak” kataku polos.
“Ok, nanti malam aku tunggu jawabanmu” kamu berdiri hendak meninggalkanku.
“Enggak Kak. Besok aku kasih  jawabannya” aku mengulur waktu.
“Baiklah, besok ku tunggu.” Kemudian kamu berlalu begitu saja. Meninggalkanku dalam diam.
            Keesokan harinya, kamu menagih janjiku. Kembali melayangkan pertanyaan yang kamu tanyakan kemarin. Lagi-lagi aku diam, kali ini aku bingung bagaimana cara mengatakan apa yang ingin ku sampaikan. Kemudian aku hanya mengangguk pelan. Kamu bertanya sekali lagi memastikan, dan aku mengangguk lebih yakin. Kamu tersenyum, tak dapat ku baca itukah senyum bahagia kamu atau ada maksud  lain di balik senyummu itu. Kamu mengepalkan tanganmu, menyisakan jari kelingking yang tak ikut merunduk dengan jari yang lain.
            “Apa ini?” tanyaku bingung melihat tanganmu di depan wajahku.
            “Mana kelingkingmu?” tanyamu lagi.
“Untuk apa?” tanyaku masih tak mengerti.
“Ini tanda bahwa aku dan kamu ada dalam satu ikatan” katamu dengan senyum yang membuatku semakin membisu.
            Aku hanya tersenyum. Kemudian mengikuti apa yang kamu katakan. Jari kecil kita terpaut, menandakan bahwa kita berada dalam satu ikatan seperti katamu. Tak terkira bahagianya aku saat itu. Rasa bangga karena memilikimu.
Ayu, sepupu ku pun sangat senang ketika aku ceritakan tentang hubunganku denganmu. Lalu dia menceritakan banyak hal yang dia tahu tentang kamu. Menceritakan semua kebaikan-kebaikan kamu. Membuat senyumku semakin melebar mendengarnya.
            Hingga malam perpisahan itu tiba. Aku berharap akan bertemu denganmu sebelum aku pulang. Tapi ternyata tidak. Kamu tidak menemuiku. Hingga ku dengar dari kawanmu, kamu sakit hingga tak bisa menemuiku malam itu. Aku tak tahu kabar itu benar atau tidak, entah kenapa aku merasa ragu. Pasalnya kemarin sore kamu baik-baik saja. Bercanda gurau dengan teman-temanmu dan aku hanya menatapmu dari rumah disebrang jalan, sore itu.
            Pagi menjelang, kamu tak kunjung datang. Padahal kamu pun tahu akan lama sekali aku kembali ke tempat itu. Akan butuh waktu lama untuk kita bertemu kembali. Kecewa sudah tentu. Tapi saat itu aku mencoba untuk tetap berpikir positif, bahwa kamu sedang sakit. Akhirnya aku pulang dengan harapan yang  kosong.
            Satu hari, dua hari, ku tunggu kabarmu. Hingga satu minggu setelah kepulanganku, baru aku tahu nomor mu sudah tidak aktif. Sebulan, dua bulan masih ku tunggu. Ku coba tanya pada Ayu perihal itu. Kemudian Ayu memberi kabar bahwa kamu sedang dalam kondisi sulit. Mungkin saja handphone mu juga terjual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Baiklah, aku mengerti kondisi itu. Mengerti juga dengan kemungkinan yang disampaikan Ayu. Aku kembali menunggu, hingga satu bulan kemudian aku kembali bertanya pada Ayu.
Setelah Ayu menghubungi kawan mu, Ayu memberi kabar kepadaku,. Kabar yang membuatku menyesal telah menunggumu.
            “Gis, Very bilang kamu masih anak SMP. Nanti kalau kamu sudah SMA, baru dia akan serius sama kamu.” Itu perkataan Ayu saat itu.
            Aku  tak tahu harus berkata apa. Kecewa, atau bahagia karena terbebas dari ketidakpastian beberapa bulan lalu. Entah apa maksudmu melakukan  semua itu terhadapku. Aku tak pernah tahu.
Pertemuan tahun itu adalah benar-benar pertemuan terakhirku denganmu. Aku tak bisa lagi menemuimu. Karena  sejak saat itu keluargaku berselisih dengan keluarga Ayu. Membuat kami pun serasa ikut berselisih. Dan Ayu tak pernah lagi mengajakku berlibur bersamanya.
            Beberapa tahun berlalu begitu saja. Tanpa pernah ada sedikit pun kabar darimu. Bahkan sampai hari ini. Sampai aku berada di tingkat dua di salah satu universitas di Jakarta. Ingin aku mengatakannya padamu. Menagih janjimu jika aku berada di jenjang SMA, yang saat ini bahkan telah aku lewati jenjang itu.
Sebenarnya aku selalu menunggumu. Tak pernah ku ganti nomor telepon yang dulu pernah aku berikan padamu, berharap kamu akan menghubungi. Namun tetap tak ada.  Enam tahun yang penuh dengan  harapan semu. Harapan bahwa kita akan bertemu, agar aku segera mengetahui jawaban dari dari pertanyaanku sendiri, ‘Kapan kita putus?’.

Harapan Nenek untukmu Paman



Harapan Nenek untukmu Paman

28 Juli 2015
Wajahnya kian menua. Usia dan beban hidup seolah membuatnya tak memikirkan hal itu. Bukan, kali ini aku bukan menceritakan Ibu. Ibu masih terlalu cantik untuk aku katakan tua. Wanita yang ku maksud kali ini adalah Nenek.
            Nenek yang sendiri, tanpa kakek. Kakek meninggal tepat ketika usia ku tujuh bulan dalam kandungan. Ketika cucu pertamanya akan segera menemuinya.
Nenek pernah bercerita, dulu kakek begitu menginginkan seorang cucu. karena anak-anak tertua meninggal sebelum menikah, maka Ibu lah yang menjadi korbannya. Ibu harus menikah di usia muda. Padahal saat itu ibu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Anak Nenek dan Kakek sebenarnya ada Sembilan. Tapi Allah hanya memberikan kesempatan tiga orang untuk mendampingi Nenek dan Kakek hingga usia lanjut. Ya, Allah memanggil enam orang saudara Ibu.
Melihat kondisi Nenek sekarang, rasanya aku tak tega. Merasa malu dengan kelakuanku yang jauh dari teladan Nenek. Bagaimana tidak? Tubuh Nenek yang kecil, tak pernah diam dirumah. Kebun dan sawah tak pernah lupa ia kunjungi. Tiga hari dalam seminggu, nenek selalu mengikuti pengajian yang jaraknya lumayan jauh. Bahkan ada satu tempat yang sampai harus menyebrang desa. Malam harinya, Nenek mengajar ngaji anak-anak kecil. Bermakna sekali rasanya hidup Nenek. Berbeda dengan cucu pertama mu ini Nek, sama sekali tidak produktif bahkan diusia mudanya.
Saat ini Nenek tengah menangis. Dan aku tahu, hampir enam bulan ini tak pernah nenek lewati tanpa air mata. Di atas sajadah cokelat  itulah engkau menumpahkan air matamu, mengadukan segala beban hidupmu, mengirim beribu harap dan berjuta doa untuk anak-anak  mu. Terutama untuk Paman.
Akhir-akhir ini paman memang berulah. Aku tak tahu persis bagaimana permasalahannya. Yang aku tahu paman saat ini tenggah di lilit hutang. Bibi dan Ayah memberitahuku bahwa hutang nya mencapai 150 juta. Aku tercengang mendengar nominal itu. Uang sebanyak itu bisa membiayai kuliahku hingga lulus, batinku.
Bibi bilang, selama enam bulan ini banyak sekali orang-orang yang datang kerumah Nenek, menagih hutang paman. Coba bayangkan bagaimana perasaan Nenek? Tak tahu apa-apa, tiba-tiba orang-orang datang dan memaksa Nenek untuk melunasi hutang anak sulungnya itu.
Aku bukan ingin menjelek-jelekkan paman. Bukan pula tak kasihan dengan permasalahannya. Hanya tak habis pikir. Bukankah selama ini sebagian harta Nenek, sudah dihabiskan paman. Sawah dan kebun sudah Nenek jual untuk untuk menutupi hutang Paman yang telah lalu.  Lalu kenapa bisa Paman saat ini memiliki hutang sedahsyat itu? Itu sama saja membunuh Nenek secara perlahan. Tak kasihan kah paman pada Nenek? Ibu Paman sendiri?. Bagiku perbuatan Paman itu lebih dari tega, lebih dari keterlaluan. Nenek yang ringkih seperti itu, Paman timpah dengan beban yang Paman sendiri tak sanggup memikulnya.
Pantas saja ketika hari raya kemarin, aku merasa ada yang aneh di rumah Nenek. Aku melihat sepasang kaki terlentang di kamar gudang itu. Akhirnya aku tahu, itu adalah kaki Paman. Paman yang sedang bersembunyi dari kejaran mereka-mereka yang menagih hutang kepada Paman. Nenek memang selalu membela Paman. Selalu berharap Paman akan berubah. Paman bisa usaha dengan baik, dan menghidupi keluarga Paman dengan layak.
Idul fitri kemarin, keluarga Paman datang berkunjung. Istri dan anak-anak Paman datang silaturahmi ke rumah Nenek. Tak sengaja aku dengar, istri Paman mengatakan bahwa Paman tidak pulang selama lima bulan. Dan Riki, sepupu laki-laki ku yang tak lain adalah anak pertama Paman, sekarang sudah lulus SMP. Ku coba tanya dia mau melanjutkan sekolah kemana. Tapi dia mengatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan sekolahnya Akan ikut bekerja dengan saudara Ibunya di Jakarta. Namun tadi pagi aku baru tahu, Bibi menceritakan kalau dia sebenarnya  ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Air mata ku tertahan. Bisa dia mengatakan kepadaku tak ingin sekolah, padahal hatinya berteriak mengatakan sebaliknya. Aku tahu maksudnya, dia tak ingin  menyusahkan orang tuanya dan tak ingin dikasihani oleh siapapun.
Andai aku bisa bertanya kepada paman. Apa Paman tidak memikirkan mereka? Anak-anak paman kah yang harus menanggung bebannya?. Belum lagi anak perempuan Paman yang masih berusia enam tahun, tentu ia akan menanyakan keberadaan Ayahnya yang tak kunjung pulang ke rumah. Menyisakan bingung Ibunya yang tak tahu hendak menjawab apa.
Tahukah Paman, permasalahan Paman ini tak hanya berimbas pada keluarga Paman dan Nenek. Keluarga ku pun terkena imbasnya. Ibu dan Bapak tak jarang bertengkar karena permasalahan ini. Ibu yang selalu meminta Bapak membantu permasalahan Paman. Ikut menutup hutang Paman yang seabreg itu. Ya, Bapak sering keberatan. Karena menurut Bapak, bukan hanya sekarang Paman terlilit hutang. Berulang-ulang kali Bapak membatu melunasi hutang Paman, meski Bapak sendiri harus mendapatkan uang itu dengan meminjam. Bapak mungkin bosan dengan sikap Paman yang tak kunjung berubah. Malah semakin menjadi hingga akhirnya saat ini mencapai angka yang fantastis.
Entah apalagi yang akan Nenek jual untuk menutupi hutang Paman kali ini. Hanya ada kebun dan sawah berpetak kecil yang tersisa, dan tentu saja rumah tuanya. Rumahnya yang sudah lapuk dimakan usia itu tak mungkin Nenek jual, karena disanalah Nenek memulai hidup dengan Kakek dulu. Rumah itulah yang menjadi saksi bahwa Nenek membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang, dengan didikan yang baik. Dan rumah itu pula yang menjadi saksi kedurhakaan anak pada Ibu yang telah membesarkannya. Macam paman.  Bibi sudah menyerah. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Bapak rasanya sudah malas mendengar nama Paman. Hanya Nenek yang tetap bersikukuh dan terus berjuang membela Paman. Menahan agar orang-orang yang saat ini  berkumpul di rumahnya tak menyakiti dan melaporkan Paman ke pihak berwajib. Karena harapan nenek hanya satu, Paman akan berubah setelah kejadian ini.
Aku hanya berharap Nenek di berikan kesabaran yang lebih lebih dan lebih untuk menghadapi cobaan yang luar biasa di masa tuanya ini. Di berikan kesehatan lahir dan batinnya. Dan semoga aku sebagai cucu pertama Nenek diberikan kesempatan untuk membahagiakan Nenek. Tunggu aku Nek. Doakan cucu mu agar menjadi orang sukses yang kelak akan menutup semua luka di hati Nenek karena kelakuan Paman saat ini. Aamiin J

Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com