Kapan Kita Putus?
30 Juli 2015
Tujuh tahun lalu
aku mulai mengenalmu. Menyimpan sejuta kagum terhadapmu. Kamu membuat liburanku
kala itu terasa semakin lengkap.
Dulu aku memang
sering di ajak sepupuku berlibur ke rumah ayahnya. Karena semenjak ayah dan ibunya
bercerai, ia terpisah jarak yang cukup jauh dari ayahnya. Karena itulah ketika
musim liburan tiba, ia selalu ingin menghabiskannya bersama ayah dan
keluarganya, di daerah pesisir sana. Aku pun sering di ajaknya. Katanya aku
bisa menemaninya di perjalanan. Aku memang sepupu yang baik. Meski aku masih
duduk di bangku SMP saat itu, tapi Ayu ~nama sepupuku~ sering mengatakan aku
adalah teman curhat yang baik. Tentu saja. Bagaimana tidak, aku lebih banyak
diam dan menjadi pendengar yang baik ketika ia bercerita. Tak banyak
berkomentar. Mungkin seperti itulah yang ia anggap baik.
Saat itu aku
memang hanya sekedar kenal. Meski sebenarnya secara tak sadar ada perhatian
lebih yang ku taruh padamu. Ada pandangan dengan intensitas lebih terhadap
sosokmu. Dan aku tahu kamu pun demikian. Kamu sering sekali terlihat gugup
ketika di depanku. Masih ingat dulu, karena begitu gugupnya kamu menjatuhkan
benda disamping mu. Lalu kemudian tersenyum malu kepadaku.
Saat itu tak
banyak yang aku tahu tentang mu. Dan ku rasa begitu pun sebaliknya. Karena pada
sasat itu, memang sahabatmu lah yang lebih akrab ~sok akrab tepatnya~ denganku.
Di malam terakhir
liburanku, aku mendengar kamu bernyanyi. Tak begitu jelas lirik dan nadanya.
Satu kalimat yang berhasil aku ingat ‘Hari ini ku dendangkan’. Ya, hanya satu
kalimat itu yang benar-benar jelas terdengar. Tahukah kamu? Satu kalimat itu ku
ingat-ingat selalu. Ku tanyakan pada teman-teman yang ahli di bidang musik. Dan
akhirnya aku tahu, itu adalah lirik lagu dari grup band J-roks dengan judul
Ceria. Sejak itu sering sekali aku menyanyikan lagu itu dan mengaku menjadi
J-roks star meskipun hanya sesaat.
Di tahun
berikutnya, Ayu mengajakku berlibur bersama lagi. Tentu saja aku mau. Selama
setahun itu aku memang menanti-nanti liburan semester. Tepatnya menanti untuk
bertemu denganmu.
Di tahun kedua
itu, akhirnya aku kembali bertemu dengan kamu. Kali ini tak hanya sekedar kenal
namamu, Very Dian Koswara. Lebih dari itu. Akhirnya kamu mengatakan kamu
menyimpan rasa yang berbeda terhadapku.
“Gisha, bagaimana
jawabanmu?” tanyamu setelah kamu mengungkapkan perasaan itu.
Aku diam cukup
lama. Bingung. Meski di sudut hati yang lain ada rasa senang menyelinap. Aku
ragu, mungkinkah kamu yang sudah duduk di kelas XI benar-benar menyukaiku yang
kala itu masih duduk di kelas VIII. Apalagi aku tahu, kamu seorang aktivis dan
juga seorang vokalis band sekolah mu. Laki-laki macam kamu, apakah mungkin
tidak memiliki tambatan hati di sekolah.
“Gisha belum bisa
jawab sekarang Kak” kataku polos.
“Ok, nanti malam
aku tunggu jawabanmu” kamu berdiri hendak meninggalkanku.
“Enggak Kak.
Besok aku kasih jawabannya” aku mengulur
waktu.
“Baiklah, besok
ku tunggu.” Kemudian kamu berlalu begitu saja. Meninggalkanku dalam diam.
Keesokan harinya, kamu menagih
janjiku. Kembali melayangkan pertanyaan yang kamu tanyakan kemarin. Lagi-lagi
aku diam, kali ini aku bingung bagaimana cara mengatakan apa yang ingin ku
sampaikan. Kemudian aku hanya mengangguk pelan. Kamu bertanya sekali lagi
memastikan, dan aku mengangguk lebih yakin. Kamu tersenyum, tak dapat ku baca
itukah senyum bahagia kamu atau ada maksud
lain di balik senyummu itu. Kamu mengepalkan tanganmu, menyisakan jari
kelingking yang tak ikut merunduk dengan jari yang lain.
“Apa ini?” tanyaku bingung melihat tanganmu
di depan wajahku.
“Mana kelingkingmu?” tanyamu lagi.
“Untuk apa?”
tanyaku masih tak mengerti.
“Ini tanda bahwa
aku dan kamu ada dalam satu ikatan” katamu dengan senyum yang membuatku semakin
membisu.
Aku hanya tersenyum. Kemudian
mengikuti apa yang kamu katakan. Jari kecil kita terpaut, menandakan bahwa kita
berada dalam satu ikatan seperti katamu. Tak terkira bahagianya aku saat itu.
Rasa bangga karena memilikimu.
Ayu, sepupu ku
pun sangat senang ketika aku ceritakan tentang hubunganku denganmu. Lalu dia
menceritakan banyak hal yang dia tahu tentang kamu. Menceritakan semua
kebaikan-kebaikan kamu. Membuat senyumku semakin melebar mendengarnya.
Hingga malam perpisahan itu tiba. Aku
berharap akan bertemu denganmu sebelum aku pulang. Tapi ternyata tidak. Kamu
tidak menemuiku. Hingga ku dengar dari kawanmu, kamu sakit hingga tak bisa
menemuiku malam itu. Aku tak tahu kabar itu benar atau tidak, entah kenapa aku
merasa ragu. Pasalnya kemarin sore kamu baik-baik saja. Bercanda gurau dengan
teman-temanmu dan aku hanya menatapmu dari rumah disebrang jalan, sore itu.
Pagi menjelang, kamu tak kunjung
datang. Padahal kamu pun tahu akan lama sekali aku kembali ke tempat itu. Akan
butuh waktu lama untuk kita bertemu kembali. Kecewa sudah tentu. Tapi saat itu aku
mencoba untuk tetap berpikir positif, bahwa kamu sedang sakit. Akhirnya aku
pulang dengan harapan yang kosong.
Satu hari, dua hari, ku tunggu
kabarmu. Hingga satu minggu setelah kepulanganku, baru aku tahu nomor mu sudah
tidak aktif. Sebulan, dua bulan masih ku tunggu. Ku coba tanya pada Ayu perihal
itu. Kemudian Ayu memberi kabar bahwa kamu sedang dalam kondisi sulit. Mungkin
saja handphone mu juga terjual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Baiklah, aku
mengerti kondisi itu. Mengerti juga dengan kemungkinan yang disampaikan Ayu.
Aku kembali menunggu, hingga satu bulan kemudian aku kembali bertanya pada Ayu.
Setelah Ayu
menghubungi kawan mu, Ayu memberi kabar kepadaku,. Kabar yang membuatku
menyesal telah menunggumu.
“Gis, Very bilang kamu masih anak
SMP. Nanti kalau kamu sudah SMA, baru dia akan serius sama kamu.” Itu perkataan
Ayu saat itu.
Aku
tak tahu harus berkata apa. Kecewa, atau bahagia karena terbebas dari
ketidakpastian beberapa bulan lalu. Entah apa maksudmu melakukan semua itu terhadapku. Aku tak pernah tahu.
Pertemuan tahun
itu adalah benar-benar pertemuan terakhirku denganmu. Aku tak bisa lagi
menemuimu. Karena sejak saat itu
keluargaku berselisih dengan keluarga Ayu. Membuat kami pun serasa ikut
berselisih. Dan Ayu tak pernah lagi mengajakku berlibur bersamanya.
Beberapa tahun berlalu begitu saja.
Tanpa pernah ada sedikit pun kabar darimu. Bahkan sampai hari ini. Sampai aku
berada di tingkat dua di salah satu universitas di Jakarta. Ingin aku
mengatakannya padamu. Menagih janjimu jika aku berada di jenjang SMA, yang saat
ini bahkan telah aku lewati jenjang itu.
Sebenarnya aku
selalu menunggumu. Tak pernah ku ganti nomor telepon yang dulu pernah aku
berikan padamu, berharap kamu akan menghubungi. Namun tetap tak ada. Enam tahun yang penuh dengan harapan semu. Harapan bahwa kita akan bertemu,
agar aku segera mengetahui jawaban dari dari pertanyaanku sendiri, ‘Kapan kita
putus?’.