04
Agustus 2014
Bercengkrama bersama
keluarga, membicarakan hal-hal yang ringan. Hanya bersama mama sih, adik-adikku
sibuk dengan mainannya masing-masing. Adik laki-lakiku sibuk dengan layang-layangnya,
yang entah sampai kapan pembuatannya selesai. Karena aku perhatikan, hampir
setiap hari ia membuat layang-layang baru. Berbagai alasan ia kemukakan jika
ditanya perihal itu. Layang-layangnya tersangkut lah, putus lah, sampai
layangannya ia jual. Ah, sudahlah. kali ini aku bukan ingin
membahas masalah layang-layang.
Bapak sedang tak
dirumah, beliau pagi-pagi sekali mengantar si Abah yang entah mau kemana. Mama
dan adik perempuanku baru saja tiba dari acara pernikahan di kampung sebelah.
Lah aku sendiri sebenarnya tak jelas apa yang tengah aku lakukan. Maklumlah
libur sekolah, libur pula aktivitas di rumah. Hehe..
Ketika sedang asyik
berbincang di ruang depan, melintas sepeda motor yang di kendarai laki-laki
muda membonceng gadis remaja yang masih mengenakan seragam putih abunya. Mama
bertanya padaku, “apakah aku mengenal gadis itu?”. Aku mencoba mengingat-ingat
dengan hanya ada satu petunjuk, yaitu logo sekolah yang tertempel di seragam
putihnya yang selintas terlihat olehku. Aku
tahu dia berasal dari sekolah mana, tak begitu jauh lah dari sekolahku yang
dulu. Tapi rasa-rasanya tak ada siswi yang berasal dari sekolah itu di sekitar
kampungku. Aku balik bertanya pada mama, “kenapa memang dengan gadis itu, tak
biasanya mama meneliti orang yang melintas di depan rumah?”.
Dan oh ternyata,.. mama
tadi sempat melihat gadis itu di salah satu rumah dikampung sebelah. Yaa..
dengan perilaku yang tak sepantasnya dilakukan oleh wanita, apalagi sebagai
pelajar. Aku tahu rumah yang mama maksud. Letaknya memang berada di pojok dekat
hutan. Pantas saja mama begitu ingin tahu siapa gadis itu.
Mama sempat
menyayangkan, gadis muda itu pastilah pamit kepada orang tua untuk memasuki
gerbang ilmu. Pastilah di bekali doa
yang tak pernah berhenti terucap dari bibir sang pendoa yakni ibu. Tapi
ternyata ia malah berbelok menuju gerbang kemaksiatan mengacuhkan rintihan doa
seorang ibu. Aku tahu mama berkata seperti itu agar hal itu menjadi pelajaran
bagiku. Pelajaran agar aku mengetahui siapa aku, dan bagaimana aku harus
berperilaku.
Aku sendiri amat sangat
menyayangkan. Gadis muda yang hanya baru
menginjak beberapa tangga kehidupan, dengan kesuksesan yang sebenarnya menanti
dimasa depan, harus terjatuh dan sulit
menapaki tangga berikutnya. Membiarkan kebahagiaannya melayang, hanya karena takut
di putus si ayang. Aku tahu siapapun yang tersentuh oleh rasa yang disebut
cinta yang dibalut oleh nafsu biadab pastilah akan terlupa dengan tujuan hidupnya
bahkan mungkin terhadap Tuhannya.
Apakah seperti itu cara
mencintai?
Merusak masa depan seseorang
yang akan menjadi masa depannya. Menyengsarakan seseorang yang kelak akan
menjadi keluarganya. Sepertinya hanya beberapa orang saja yang mampu
mengendalikan dan menjaga cinta yang dimilikinya. Tetap mencintai meski hanya
tersimpan dalam hati, tetap bahagia meski hanya tertanam dalam dada.
Aku sendiri bukan gadis
suci yang tak pernah luput dari jerat kemaksiatan. Bukan wanita muslimah yang
pandai menyimpan perasaan. Aku dan dia sama-sama perempuan, sama-sama tengah
menuntut ilmu, sama-sama memiliki godaan sebagai remaja. Tapi aku harap aku tak
pernah memiliki perilaku yang sama dengannya. Aku menulis seperti ini bukan
maksud apa-apa, apalagi untuk menjelekkan orang lain. Aku menulis karena aku
berharap tulisan ini mampu menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Pengingat
ketika aku mulai lupa tujuan hidupku, pengingat ketika aku terlena oleh
indahnya dunia dan tentunya menjadi pelajaran bagiku yang saat ini dalam tahap
menuntut ilmu untuk benar-benar meluruskan niat dan tetap menjadikan keluarga
sebagai cambuk dalam perjalananku.
0 komentar:
Posting Komentar